Archive for the ‘hikmah’ Category
Agama Ponsel
Ponsel atau telpon genggam, kini telah menjadi sarana wajib bagi hampir semua orang yang hidup di zaman kita. Ponsel menjadi alat komunikasi yang efektif dan praktis. Sudah jamak di mana-mana, ponsel kini telah menggantikan posisi alat-alat komunikasi manual zaman baheula (sekitar satu dekade silam), seperti telegram, surat, kartu pos, atau bahkan mesin faks sekali pun. Orang akan mengolok-olok ketika melihat kita berkirim surat cinta, kartu lebaran, atau telegram lewat kantor pos, atau mengirim surat dan gambar lewat mesin faks. Itu zaman dulu, sekitar sepuluh tahun silam. Tetapi sekarang, “hari gini gitu lho…,” mungkin itu komentar yang masuk ke telinga kita. Kalau kita masih bertipe jadul seperti itu, kesan orang umum kepada kita ada dua. Pertama, barangkali kita masuk kategori miskin, sampai-sampai masih berkutat pada sarana komunikasi murahan semacam itu. Atau, kedua, kita barangkali kaya, tetapi kita gaptek, sehingga tidak kenal dengan makhluk baru bernama ponsel.
Itu satu sisi, bahwa ponsel telah menjadi sarana komunikasi yang efektif, praktis dan efesien, menggantikan sarana lain yang manual, berbelit, ribet, dan mahal (surat, kartu pos, telegram, dst). Di sisi yang lain, ponsel juga menjadi simbol gengsi atau status sosial. Artinya, jika ada sekian puluh bahkan jutaan orang memakai ponsel, bisa kita identifikasi status sosial mereka dari ponsel yang mereka tenteng. Ponsel dengan elemen seperti kamera, teknologi 3G, memory-card, teknologi GPRS, apalagi dengan pulsa pasca-bayar, jelas menunjukkan kelas sosial menengah ke atas. Sebaliknya, jika ponselnya hanya sekadar bisa untuk menelpon dan kirim SMS, pulsanya pun jenis pra-bayar dengan nominal terkecil lima ribuan, terang sekali menunjukkan pemiliknya kalangan menengah ke bawah.
Fenomena Blackberry dan Facebook
Belum lama ini muncul gadget baru dalam dunia ponsel, yakni merek Blackberry, disingkat BB. Soal fasilitas, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ponsel-ponsel merek lain yang mengusung teknologi terbaru, yakni adanya fasilitas push-email, yang dengan itu pengguna bisa menerima dan mengirim email kapan dan di mana saja. Konon, untuk fasilitas yang satu ini, push-email, BB memang menawarkan kelebihan sedikit: mudah, aman, dan cepat. Lantas, apa kehebatan BB sehingga kini menjadi “demam” di mana-mana? Apa yang membuat banyak orang mengidolakannya sampai rela merogoh koceknya hingga lima jutaan lebih untuk sebuah gadget yang “tidak bagus-bagus amat” itu? Kenapa tidak melirik merek lain saja, wong paling selisih kualitasnya juga tidak jauh-jauh amat? Jawabannya: nama. Ya, BB sudah telanjur terkenal sebagai gadget yang bonafid, keren, dan elit. Karena kesan itulah, maka kemudian ia menjadi simbol gengsi dan status sosial yang melangit.
Perkembangan terbaru yang tak kalah fenomenal dibanding BB adalah dengan munculnya situs jejaring yang belakangan sedang naik daun, Facebook, disingkat FB. Kenapa ini terkait dengan dunia ponsel? Karena umumnya orang mengakses situs ini dengan sarana ponsel, baik secara langsung atau tidak langsung (baca: sebagai modem ke PC/laptop). Tetapi, tentu saja, ponsel dengan teknologi tinggi, yakni support GPRS. Melalui ponsel yang support GPRS, kita bisa mengakses situs ini dan memungkinkan kita terhubung (connetcted) dengan siapa pun dan di mana pun. Kita bisa mencari (search) siapa pun yang kita kehendaki: teman lama, teman baru, LSM, yayasan, perusahaan, dst. Tinggal ketik saja sebuah nama atau istilah, tinggal tunggu saja hasilnya, sistem mesin FB akan mencarinya sendiri, dan pasti akan ditemukan.
Bukan saja sebagai ajang mencari teman, silaturahmi, bisnis, dan semacamnya, bahkan situs ini, dengan adanya fitur menulis dan memperbarui “Status”, mem-posting gambar, video, chatting, secara langsung (mobile, online), memungkinkan kita untuk mengungkapkan diri, mengekspresikan diri, kapan saja, di mana saja, dan dalam situasi apa pun (sedih, gembira, depresi, stres, shock, dst). Sehingga, tidak jarang, kalau tak terkontrol, di situs FB ini kita bisa saja, misalnya, mengumbar hal-hal yang rahasia dari diri kita, atau menunjukkan narsisme-diri, di hadapan orang lain (sesama pengguna FB). Begitu canggih teknologi FB ini, yakni bisa “menyatukan” orang-orang satu sama lain secara online, maka tidak mengherankan jika ia pun “mendemam” di mana-mana, apalagi di tanah air kita hari-hari ini. Di mana-mana kita akan disodori pertanyaan: “Sudah punya akun di FB belum?” Jika jawabannya tidak, alamak, kasihan sekali kita. “Hari gini gitu loh, belum punya akun di FB,” begitu pasti komentar yang muncul. Maka FB menjadi simbol status sosial, kemajuan, dan pergaulan sosial. Orang yang punya akun FB dianggap sebagai kelas sosial tinggi (karena pasti ponsel-nya berteknologi mutakhir), atau, jika tidak, minimal tidak gaptek, tidak jadul, dan tentu saja “gaul”.
Agama Baru
Pemerhati dunia digital belum lama ini merilis sebuah hasil penelitian yang mencengangkan, yakni bahwa sejak “mendemamnya” jejaring FB yang merampas waktu-waktu berharga hampir semua orang itu, dari anak kecil hingga orang kantoran, telah berdampak menurunnya kinerja sampai hanya tersiswa 40 persen saja. Dengan kata lain, kinerja kita turun sebanyak 60 persen. Kita, para fesbuker (begitu sapaan akrabnya), membuang percuma waktu kerja kita (apa saja, di kantor, di sawah, di rumah) sampai 60 persen hanya untuk berceloteh ringan dan saling lempar komentar di dunia maya FB. Betapa kerugian yang mahadahsyat? Kita, secara umum, membuang-buang waktu untuk hal-hal yang dangkal dan kurang berharga.
Jika demikian halnya, maka (dunia) ponsel, yang direpresentasikan oleh fenomena Blackberry dan FB itu kini tak ubahnya menjadi “agama” baru dalam kehidupan sebagian besar kita. Apa alasannya bisa diasumsikan demikian? Erich Fromm, dalam bukunya yang monumental, Psichoanalysis and Religion (1950), mendefinisikan agama sebagai “… any system of thought and action shared by a group which gives the individual a frame of orientation and object of devotions.” Jadi agama bukan hanya dimaknai secara tradisional yang berhubungan dengan ritus-situs penyembahan kepada Tuhan, di mana konon kesyirikan hanya dipahami sebagai laku devosional pada obyek-obyek bendawi yang dianggap punya daya magis dan mistis seperti patung, berhala, arwah leluhur, tempat keramat, dan sejenisnya. Merujuk teori Fromm di atas, agama adalah apa saja yang merupakan sistem berpikir dan bertindak di mana seseorang menjadikan sesuatu sebagai kerangka orientasi dan (seakan-akan) “obyek sesembahan”.
Bayangkan saja, dengan adanya Blackberry di dunia ponsel, banyak orang kemudian mengukur kredibilitas dirinya bukan dengan menunjukkan cara berpikir atau tindak-tanduk perilaku yang mulia, atau melalui wawasan pengetahuan yang luas, akan tetapi dengan gadget yang ditentengnya. Seakan-akan, jika gadgetnya adalah smartphone, apalagi merek BB itu, berarti dia manusia kredibel dan terhormat. Sebaliknya, jika gadget yang ditentengnya jadul dan murahan, dia merasa seakan-akan serendah itu pula derajatnya.
Lalu, dengan adanya Facebook (yang jelas included dalam teknologi ponsel), begitu banyak orang yang orientasinya beralih ke FB. Buktinya, jangankan waktu luang, waktu sibuk pun digunakan untuk memelototi layar ponsel (tentu rata-rata Blackberry) atau monitor PC demi melihat posting “status” dan “komentar” terbaru, atau ingin menulis apa pun yang dia pikirkan (sebab, dalam fitur FB, di halaman terdepan terpampang “Apa yang Anda pikirkan?”). Jika tidak demikian (baca: merampas waktu sibuk), mana mungkin ada kalkulasi bahwa kinerja kita turun 60 persen. Ibaratnya, mengakses FB itu di mana dan kapan saja, tak pandang tempat atau waktu. Jangankan santai, tidak jarang orang menulis “status” sambil makan, nyetir, mengajar, dan sebagainya. Ada yang merasa tidak bisa tidur jika belum lihat FB, tak sedikit pula yang sampai pagi tidak tidur, hanya untuk ber-FB ria.
Di masjid-masjid, kini ada fenomena baru: jarang kita melihat jamaahnya memegangi atau menghitung biji-biji tasbih sehabis salat. Selesai salat, yang langsung dipegang adalah ponsel, karena ingin cepat-cepat melihat laporan “missed-call” atau pesan (SMS), tetapi rata-rata ingin melihat “status” dan “komentar” di FB. Dengan mencermati fenomena ini, jelas sekali, bukan sekadar kerangka orientasi, tetapi tidak ada bedanya dengan menjadikan ponsel—dengan FB-nya itu—sebagai (seakan-akan) obyek devosi.
“Penuhanan”
Ada sinyalmen di dalam al-Qur’an yang kurang lebih secara substansial senada dengan konsepsi Fromm tentang agama. Di dalam QS al-Furqan: 43, Allah bertanya: “… Apa kamu tidak memerhatikan kepada seseorang yang menjadikan hawa nafsu-nya sebagai tuhan? Apakah kamu bisa memberikan perlindungan kepadanya…?” Pengertian lain dari hawa nafsu adalah keinginan. Definisi keinginan dibedakan dari kebutuhan. Yang disebut pertama “melampaui” yang disebut terakhir. Kebutuhan atau keperluan itu bersifat mutlak dan musti dipenuhi, tidak bisa tidak. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang melebihi kebutuhan kita. Kita sebenarnya tidak perlu-perlu amat, bahkan mungkin tidak butuh sama sekali, terutama karena alasan ekonomi (dana, cost), tetapi tetap saja kita memaksakan diri untuk bisa memperolehnya.
Logikanya adalah sebagai berikut. Jika ditimbang-timbang secara ekonomis, akibat “demam” BB ini, berapa rupiah yang kita “sumbangkan” secara melimpah-ruah (baca: berjuta-juta) kepada para cukong telpon genggam? Asal tahu saja, sebagai standar, gadget ini dibandrol sekitar lima jutaan. Terus, karena ingar-bingar FB ini, berapa fulus yang kita gelontorkan secara bertubi-tubi kepada para bakul internet (operator seluler dan pemilik warnet) saban waktunya? Hampir semua operator kini menyediakan layanan pulsa internet, dari model paket sampai pasca bayar. Perenungan selanjutnya, tidakkah gara-gara demi kepemilikan gadget mahal dan “keren” itu kemudian anggaran untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasariah kita seperti: kesehatan, pendidikan anak, sandang pangan keluarga—baik dalam jangka pendek atau jangka panjang—menjadi berkurang atau malah terbengkalai? Jika demikian halnya, bukankah itu sama saja kita mengumbar keinginan (hasrat) yang remeh-temeh sembari mengabaikan kebutuhan (hajat) yang nota bene bersifat mutlak? Selanjutnya, akibat demam FB, berapa waktu kita yang terbuang sia-sia, baik di kantor, di kampus, di rumah, di jalan, dan seterusnya, yang mustinya bisa lebih kita alokasikan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih produktif? Jika demikian halnya, bukankah sama halnya kita mengabaikan kewajiban hanya demi melampiaskan hal-hal yang “dangkal” dan tidak “mendalam” (buat “status”, kirim “komentar”, dan sejenisnya)? Dalam posisi ini, jangan-jangan kita termasuk yang disinggung oleh al-Qur’an dalam ayat di atas, yakni “orang-orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai tuhan”, atau persisnya, “orang yang menuhankan hawa nafsu”. Na’udzu billah min dzalik.[*]
Bencana di Negeri Kaum Beragama
Di negeri kaum beragama, ada kecenderungan besar orang mengaitkan bencana alam atau musibah sejenisnya dengan dosa. Maksudnya, bahwa bencana itu kiriman Tuhan, memang Tuhan yang sengaja menimpakan kepada manusia sebagai ganjaran duniawi atas perbuatan dosa yang mereka lakukan. Dengan kata lain, perilaku manusia, dalam hal ini yang keji, buruk, dan jahat, punya pengaruh terhadap gejala-gejala alamiah seperti banjir bandang, gempa bumi, gunung meletus, lumpur membludak, situ jebol, sampah longsor, dan seterusnya (Anda bisa daftar sendiri sepanjang mungkin…).
Kaum beragama punya dasar untuk membuat justifikasi demikian. Misalnya, al-Qur’an mengatakan: “Maka Allah membinasakan mereka, lantaran dosa-dosa mereka, dan Allah meratakan mereka dengan tanah” (QS al-Syams: 14). Ayat inilah, salah satunya, yang menjadi dasar untuk mengatakan bahwa dosa dan kejahatan, apalagi pembangkangan kepada Tuhan, bisa melahirkan bencana. Kaum Tsamud, sebagaimana dikisahkan dalam ayat tersebut, mendustakan perintah Tuhan. Mereka diminta oleh Nabi Saleh AS agar membiarkan seekor unta hidup dan minum. Tetapi, mereka membangkang. Mereka bunuh unta itu. Maka Tuhan menjadi marah. Maka ditimpakanlah bencana gempa dan longsor yang mahadahsyat, sehingga semuanya mati dan terkubur.
Maka tak heran, ada saja orang yang berkomentar ‘miring’, bahwa bencana yang menimpa saudara-saudara kita belakangan ini, entah di Tasikmalaya, atau yang barusan saja: di Padang Sumbar, konon disebabkan mereka banyak dosa dan maksiat, malas ibadah, dst. Itulah ganjarannya jika banyak dosa. Setiap stasiun teve, radio, menayangkan berita tentang bencana itu, sembari berlomba mengiringi tayangan tersebut dengan lagu-lagu melankolis Ebiet G. Ade, yang mengujarkan, intinya, bahwa bencana adalah sebagai peringatan, bahwa Tuhan ingin agar kita kembali kepada-Nya; bencana banyak melanda, karena “… Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…”
Belum lama ini saya mendapat selebaran photocopy-an (yang berjudul “Tanda-tanda Kekuasaan Allah”), juga posting status di jejaring Facebook, yang mengungkap rahasia numerik pada angka-angka waktu terjadinya gempa, dikaitkan dengan surat dan ayat al-Qur’an. Gempa Sumbar kemarin terjadi tanggal 30 September, atau 30-09, yang jika kita merujuk al-Qur’an, surat Thaha (30) ayat 09, bunyinya sbb: “Sesungguhnya Allah yang menciptakan makhluk, Dia pula yang akan mengembalikan (kepada-Nya), dan kepada-Nya-lah kalian semua kembali.” Terus, gempa pertama yang terjadi pada pukul 17:16, merujuk mpada QS al-Isra (17), ayat 16, yang berbunyi: “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar taat kepada Allah), tetapi mereka malah durhaka, maka sudah berhak mereka menerima takdir Kami, kemudian Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.” Gempa susulan, yakni pada pukul 17:58, merujuk pada QS al-Isra (17) ayat 16, yang berbunyi, “Tak ada satu negeri pun (yang durhaka penduduknya), kecuali kami binasakan mereka sebelum kiamat, atau kami azab penduduknya dengan azab yang keras. Yang demikian itu sudah tertulis dalam Lauh Mahfudz.” Yang di Jambi, pukul 08:52, sejalan dengan QS al-Anfal (8), ayat 52, yang bunyinya, “… (keadaan mereka) seperti nasib pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelumnya, mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka…”
Jika menggunakan pendekatan agama, yang titik berangkatnya adalah dari iman (kepercayaan), pandangan atau model analisis semacam itu barangkali masuk di akal, dan sah-sah saja. Namanya juga agama. Apa kata kitab suci, apa kata Nabi, kata ulama, asal kita percaya, ya itulah kebenaran yang sesungguhnya. Habis perkara, tak ada keraguan atau bimbang. Kebenaran adalah berdasarkan iman.
Lain halnya jika pendekatan yang kita pakai adalah rasio. Etosnya, pertama-tama, justru ragu-ragu. Percaya adalah soal nanti, setelah kita berpikir dan menganalisis dengan nalar yang sehat, syukur ditambah pula dengan bukti-bukti yang logis dan empirik. Kenapa musti ragu-ragu? Karena, dengan perangkat ilmu yang ilmiah (ilmu alam dan ilmu sosial), jelas ada missing link jika dikatakan bahwa perilaku manusia berpengaruh secara langsung terhadap gejala alam. Misalnya ya itu tadi, analisis yang mengatakan, bahwa karena orang Aceh (2004), Jogja (tahun 2006), Tasikmalaya dan Padang jauh dari Tuhan, gemar maksiat, maka alam menjadi marah dan terjadilah bencana: tsunami, gempa, tanah longsor. Cara berpikir begini, tentu saja, dalam konteks rasio, tidak masuk akal.
Yang paling masuk di akal, matching link, sebaliknya, adalah bahwa kondisi alamiah, kondisi geografis tertentu, mempengaruhi perilaku dan kebiasaan manusia. Karena, memang secara alamiah dan sosiologis, manusia hidup menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan kondisi alam lingkungan sekitarnya. Misalnya, kebiasaan orang-orang di daerah pesisir pantai yang berbicara panjang dan keras, jelas sekali dipengaruhi kondisi geografis. Atau, orang-orang Jakarta yang konon lebih emosional dan mudah stres, tentu saja karena kondisi alamiah di ibukota yang umumnya panas dan penuh polusi.
Kalau dalam kaitan dengan modus “sebab akibat alamiah”, itu mungkin saja, bahkan pasti. Misalnya, sekelompok masyarakat di daerah tertentu gemar merusak hutan cagar alam di sekitarnya, maka jelas saja tindakan mereka itu cepat atau lambat akan mengkonsekuensi bencana: banjir, tanah longsor, kurang air, dsb. Dan untuk hal ini, al-Qur’an sendiri mengamininya: “Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan, sebagai akibat ulah tangan manusia. Allah ingin mereka merasakan dampak perbuatan mereka, dan supaya mereka sadar” (QS al-Rum: 41).
Sedangkan model analisis yang mengaitkan bencana dengan dosa, ini merupakan kebalikannya, yakni (seakan-akan ada) modus “sebab akibat metafisik/supra-natural” di balik fenomena bencana. Menurut hemat penulis, model analisis macam ini mengandung ‘cacat’ dan sisi negatif yang signifikan. Pertama, jika bencana pasti berkaitan dengan dosa dan kemaksiatan, bukankah kota besar semacam Jakarta mustinya lebih “berhak” untuk dihantam bencana dibanding Jogja, Tasik, atau Padang. Jamak diketahui, tingkat kemaksiatan di Jakarta, sebagai kota metropolitan, jelas lebih tinggi dibanding kota-kota lain. Buku Jakarta Under Cover yang kesohor itu (cetak ulang hingga lebih dari 30 kali) bisa dijadikan dasar untuk asumsi ini.
Kedua, model analisis seperti itu berpotensi mengaburkan hukum kodrat atau sunnatullah berkaitan dengan fenomena alam. Bencana alam adalah gejala natural biasa, yang tunduk pada modus “sebab akibat natural” tadi, yakni dikarenakan kondisi geografis tertentu yang memang potensial (melahirkan bencana), baik karena dari awalnya sudah strukturnya seperti itu, atau berubah dan rusak karena ulah manusia. Misalnya gempa bumi, itu terjadi karena tanahnya terdiri atas lempengan-lempengan, sehingga jadi sesaran gempa; tanah longsor, terjadi karena struktur tanahnya yang berbukit dan rapuh; banjir bandang, terjadi karena hutan gundul dan sungai penuh sampah, dst. Jika dipahami bahwa aneka bencana alam seperti itu sebagai akibat dosa dan kemaksiatan, maka pengertian sunnatullah dalam konteks ini menjadi amburadul dan rusak berantakan.
Ketiga, model analisis itu punya sisi negatif yang krusial, yakni memberi justifikasi pada kecenderungan “blaming the victims” (menyalahkan korban). Bukankah ironis, bukankah tidak manusiawi, mereka yang tertimpa bencana sudah menderita kehilangan harta benda, tempat tinggal, pekerjaan, bahkan sanak saudara, eh, masih kita salahkan juga sebagai pendosa dan pembuat maksiat yang menyebabkan datangnya bencana. Kecenderungan “blaming the victims” ini, dalam tataran aksiologis, juga berpotensi mengerus rasa simpati, empati, dan kepedulian publik. Bisa saja, bahkan banyak, orang kemudian enggan membantu, dengan mengusung dalih, “Ya biar saja mereka menderita, itu sebagai ganjaran atas dosa mereka,” atau, “Tidak usah dibantu. Biar mereka merasakan pedih, agar mereka mau bertaubat dan kembali ke jalan Tuhan,” dst. Bayangkan saja jika yang memegang kendali penyelenggaraan negara, seperti presiden dan menteri-menterinya, adalah orang-orang yang menganut pemahaman seperti ini. Negara bisa tamat!
Penulis tak hendak memastikan bahwa analisis yang “mengaitkan bencana dengan dosa” itu keliru. Meskipun secara nalar kurang bisa diterima—apalagi jika disyaratkan dengan pembuktian ilmiah yang logis dan empiris, namun demikian dalam perspektif tertentu, yakni keimanan (agama), analisis seperti itu masih dimungkinkan (bagi yang percaya tentunya).
Saya sendiri adalah bagian dari kaum beragama. Hanya saja, dalam konteks ini sangat penting bagi kita, siapa pun, dan terutama kaum beragama, untuk menunjukkan respon dan pandangan secara proporsional dan santun. Menurut hemat saya, teks-teks suci, dalil-dalil agama memang bisa menjadi landasan sikap dan respon kita terhadap fenomena bencana alam, meskipun musti ada syaratnya yang penting: percaya (iman). Namun demikian, dalam skala dan konteks tertentu, ada semacam pembagian, mana ayat atau dalil yang menjadi wilayah kita untuk menjumputnya sebagai landasan sikap, mana yang wilayah orang tertentu, mana yang wilayah Tuhan.
Barangkali betul, jika kita percaya (iman), bahwa “dosa bisa mengakibatkan bencana,” seperti yang tersurat dalam ayat-ayat di atas. Tetapi, yang menjadi pertanyaan, siapa yang berhak menentukan, menghakimi, siapakah para pendosa itu? Apakah kita, manusia, punya wewenang untuk menyebut seseorang berdosa atau tidak? Dasarnya apa untuk menyebut mereka sebagai pendosa (epistemologis)? Al-Qur’an memberikan jawabannya dalam QS al-Nahl: 125: “… dan Allah lebih tahu, siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih tahu siapa yang berjalan di atas petunjuk-Nya” (Inna rabbaka huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabilihi wahuwa a’lamu bil-muhtadin). Dari ayat ini, jelas sekali, bahwa hanya Allah yang tahu persis, mana yang berdosa dan mana yang berpetunjuk. Kita mungkin tahu, tetapi hanya sedikit, hanya menerka-terka saja (berspekulasi). Makanya kita sering mengakhiri kalimat dengan “Wa Allahu a’lam bil-shawab,” artinya, “Allah lebih tahu tentang kebenarannya.”
Jadi, menurut hemat saya, ayat-ayat yang mengaitkan bencana dengan dosa itu adalah “manifesto” dari Allah dalam kapasitas-Nya sebagai Zat yang Mahatahu dan Mahaber-kehendak. Dia Mahatahu tentang siapa-siapa di antara hamba-hamba-Nya yang berdosa, dan mungkin, menurut Dia, pantas diberi hukuman, maka Dia pun menurunkan bencana itu. Apabila kita, dengan merujuk pada ayat-ayat tersebut, kemudian berpretensi menghakimi orang lain sebagai “pendosa yang memicu datangnya bencana Tuhan,” bukankah sama halnya kita “membajak” wewenang Tuhan sebagai Zat yang paling tahu siapa di antara hamba-hamba-Nya yang pendosa dan yang bukan (QS al-Nahl: 125)?
Tugas kita sebagai hamba bukanlah untuk bersikap reaktif, “menghakimi” sesama hamba Tuhan yang lain, apalagi ketika orang lain itu sedang tertimpa bencana; bertanya-tanya dan berpikir “kenapa” (why) bencana terjadi, siapa yang salah, dsb. Tugas dan kewajiban kita ketika bencana menimpa saudara kita adalah menunjukkan sikap pro-aktif, memberikan kepedulian secepatnya, langsung berpikir tentang “apa” (what) yang musti segera dilakukan untuk bantu meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita itu. Atau jika tidak bisa memberikan kepedulian yang riil, minimal mendoakan semoga yang meninggal diampuni dosa-dosanya, yang masih hidup dan menderita diberi ketabahan dan kekuatan. Bencana alam adalah hal yang wajar, karena kita memang hidup di negeri yang berpotensi bencana. Sehingga, bencana bisa datang kapan saja dan menimpa siapa saja tanpa membeda-bedakan derajat spiritual atau keimanan. Tugas kita, yang selamat dan tidak terkena bencana hanya satu: peduli. Nabi Saw mengajarkan satu hal saja, terkait ini: “Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Mukmin, maka dia bukan bagian dari mereka [man lam yahtamm bi-amril-mu’minin, falaisa minhum]” (HR Bukhari-Muslim). Wallahu a’lam.***
Kekayaan jiwa lebih utama

sedang tamasya
Kuasa Tuhan
Jauh-jauh hari sudah banyak orang yang memprediksi, bahwa seusai momentum Pileg (pemilihan calon anggota legislatif), akan banyak orang yang terjangkit stres atau depresi. Kini ramalan ‘ilmiah’ itu terwujud nyata di sekitar kita. Banyak mantan calon legislator, baik dari tingkat atas (pusat) maupun bawah (daerah) yang diketahui menderita gangguan jiwa setelah mengetahui mereka gagal dalam Pileg kali ini; suara mereka jeblok dan rendah, sehingga tak memenuhi syarat untuk menjadi anggota dewan yang terhormat.
Mengapa mereka sampai stres atau depresi? Secara psikologis jelas, bahwa sebabnya karena mereka telah kehilangan sesuatu. Apa itu? Bisa berupa kesempatan. Mereka telah kehilangan sesuatu yang begitu diidam-idamkan banyak orang, yakni kesempatan untuk menjadi manusia yang (ingin) terhormat, sebagai anggota legislatif. Mereka telah kehilangan kesempatan satu-satunya untuk bisa masuk ke tempat yang oleh banyak kalangan disebut sebagai tempat paling “panas”, tetapi juga paling “basah”. Panas kok ya juga basah. Tempat yang aneh bukan? Tentu menjadi “kebanggaan” tersendiri bisa masuk ke dalam tempat aneh seperti itu. Atau, barangkali justru keanehannya itulah yang menjadi daya betot tersendiri, sehingga sedemikian banyak yang mengidamkannya.
Selain kesempatan, yang lebih jelas dan kentara, bahwa mereka telah kehilangan materi atau harta benda yang begitu banyak. Entah berapa ratus juta yang telah mereka keluarkan untuk membiayai kampanye bagi promosi diri mereka ke hadapan publik. Ada yang menjual rumahnya, seluruh kendaraannya, bahkan harta warisannya, demi membiayai kampanye: membuat alat peraga, membagi-bagikan cinderamata, uang saku atau uang transport kegiatan rapat umum, dan juga—diakui atau tidak diakui—bagi-bagi duit (money politics). Maka, jangan heran, banyak di antara mereka yang kini jatuh miskin dan melarat, tidak punya apa-apa lagi.
Kondisi perubahan drastis seratus delapan puluh derajat itu seakan-akan menunjukkan kepada kita bukti, betapa Tuhan Mahakuasa, sehingga Dia dapat “seenak perut” mengubah nasib setiap orang secara radikal dan revolusioner. Manusia boleh dan sah saja berusaha mati-matian, sampai harus berkorban habis-habisan, untuk mendapatkan secuil kekuasaan (pangkat dan jabatan), tetapi tetap saja destinasi akhir berada di tangan Tuhan, Zat yang Mahatahu dan Mahabijak menyangkut siapa yang menurut-Nya cocok “ketiban sampur”—terlepas apa pun pertimbangan-Nya, karena itu hak prerogatif-Nya. Al-Qur’an, dalam surat Ali Imran: 26, mengajarkan bahwa Allah-lah sebagai pemilik kekuasaan (malik al-mulk), sehingga Dia berwenang memberikannya kepada, atau mencabutnya dari, siapa pun. Dia berwenang memuliakan seseorang dengan kekuasaan (menganugerahinya), atau menghinakan seseorang juga dengan kekuasaan (mencabutnya)… Seharusnyalah para caleg yang gagal itu sadar, bahwa kegagalan mereka, atau pun kesuksesan orang lain sebagai caleg, bukan semata-mata faktor upaya dan usaha (kasab) manusiawi yang “jeblok” atau sebaliknya: efektif, tetapi jauh lebih mendasar lagi, bahwa the destiny is out of our control, karena ini berkaitan dengan kuasa Tuhan.
Sedikitnya Hamba yang Bersyukur
Pelajaran lain yang bisa kita jumput, ternyata kebanyakan orang yang ‘berpunya’ itu sedikit sekali rasa bersyukurnya pada Tuhan. Sudah punya harta berlimpah, tetapi masih ingin tambah, bermimpi ingin jadi anggota dewan yang terhormat yang konon ‘penghasilan’-nya banyak, entah dari segi gajinya, atau yang ‘lain’. Harta berlimpah bukannya disyukuri dengan banyak ibadah dan sedekah, tetapi malah (masih) ditunggangi sikap serakah ingin mendapatkan yang lebih.
Agama mengajarkan, dalam harta berlimpah yang kita miliki ada hak bagi mereka yang tak berpunya dan miskin. Kita harus menyisihkan sedikit dari harta kita untuk mereka (fakir, miskin, ibnu sabil, yang banyak hutang, dst), dengan tulus dan ikhlas, karena pada dasarnya kita “mengembalikan” apa yang menjadi hak mereka (rakyat). Memang benar, bahwa para caleg (yang gagal) itu “bersedekah” dan “mengembalikan”, tetapi sayangnya bukan didasari keikhlasan, melainkan diembel-embeli syarat dan dan ketentuan, yakni harus mendukung mereka memuluskan jalan menjadi caleg. Sehingga, “sedekah” mereka sesungguhnya bukan wujud kebersyukuran, akan tetapi sebaliknya: kekufuran. Makna dasar kufur adalah ingkar, alias kemungkaran, yang dalam bahasa sosial bisa berarti crime atau kejahatan. Tentu saja kejahatan mencakup banyak sekali hal, akan tetapi jelas yang namanya “membeli suara”, money politics, masuk di dalamnya. Secara lahir memang aneka macam pemberian para caleg itu bisa disebut sedekah, karena bersifat cuma-cuma, tetapi substansinya adalah suap, karena ada “syarat dan ketentuan berlaku”, yakni harus memberikan suara bagi sang pemberi nanti di bilik suara.
Al-Qur’an menyatakan, dalam surat Ibrahim: 7, bahwa mereka yang bersyukur atas nikmat yang diterima, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya, sedangkan mereka yang kufur nikmat, Allah akan menimpakan azab yang sangat pedih. Bukan berburuk sangka, bisa jadi fenomena mantan caleg yang depresi, stres, bahkan meninggal (ironisnya ada yang karena bunuh diri), adalah salah satu bentuk dari azab Allah yang dimaksud, karena keberlimpahan materi yang mereka (para mantan caleg) dapat tidak dibarengi dengan sikap syukur, tetapi justru sikap kufur. Na’udzu billah.
Sikap Qana’ah
Agama mengajari kita untuk bersikap qana’ah dalam menjalani hidup ini. Apa itu qana’ah? Secara terminologis, qana’ah berarti menerima dan menjalani hidup ini sesuai dengan kadar (ukuran) yang digariskan Tuhan kepada kita. Dengan kata lain, dengan sikap qana’ah ini, maka kita musti menghidupi hidup ini (living a life) sejauh yang secara wajar menjadi kebutuhan kita, bukan yang secara bebas (mutlak) menjadi keinginan kita. Itulah kenapa, secara kebahasaan, qana’ah sebagai kebalikan dari thama’, yang berarti serakah alias tamak, alias ingin meraih lebih banyak lagi dari sekadar yang sudah dimiliki.
Orang yang berorientasi kepada keinginan, bukan kepada kebutuhan, sesungguhnya mengindikasikan bahwa dia telah meninggalkan sikap qana’ah dan lebih menuruti hawa nafsu. Kata hawa sendiri berasal dari bahasa Arab, yang berarti keinginan. Menuruti hawa nafsu jelas bukan sikap terpuji, apalagi jika sampai menjadi budak nafsu, sehingga sampai-sampai sudi berbuat dan berkorban apa pun, entah itu harta benda, harga diri, bahkan jiwa raga, demi memuluskan segala yang menjadi keinginan (hawa). Padahal, jika segala nafsu kita turuti, jelas tidak akan terpuaskan. Menuruti nafsu atau keinginan duniawi ibarat meminum air laut, semakin diminum maka kita akan semakin haus. Satu-satunya yang bisa memupuskan dan sekaligus menghentikan segala yang menjadi keinginan nafsu adalah kematian. Seperti disitir dalam QS Al-Takatsur ayat 1-2, bahwa segala tingkah-polah “bermegah-megahan” pada akhirnya berhenti ketika seseorang itu mati, masuk kubur. Nabi Saw mengatakan, orang baru benar-benar berhenti mengejar keinginannya ketika hidungnya kemasukan tanah (mati). Sebab, seperti ungkapan Imam Ali kwa: “Kekayaan jiwa itu sudahlah cukup bagi seseorang, jika tidak (artinya: lebih menuruti keinginan nafsu), maka ketahuilah bahwa meski seluruh isi bumi sudah terengkuh, itu tidak akan cukup” (wa ghina al-nufusi hiya al-kifafu fa-in abat fa jami’u ma fil-ardli la yakfiha).
Kekayaan Jiwa
Benar bahwa dunia ini adalah karunia Ilahi, yang musti kita raih, resapi, dan nikmati. Cinta dunia itu wajar, karena hal itu memang hiasan hidup manusia. Al-Qur’an sendiri, dalam surat Ali Imran: 14, menyatakan: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, tetapi di sisi Allah-lah ada tempat kembali yang baik (surga).”
Yang dilarang adalah berlebih-lebihan dalam cinta dunia, yakni yang disebut gila dunia. Ketika seseorang sudah gila dunia, artinya sudah tergila-gila dengan dunia, dengan kata lain menjadi budak dunia. Ungkapan lain dari budak dunia ini tentu aja adalah apa yang tadi disebut budak nafsu—karena dunia memang identik dengan nafsu, yakni ketika seseorang tidak sudi berhenti pada apa yang menjadi kebutuhan dasariah nan wajarnya, tetapi lebih menuruti apa pun yang menjadi keinginan (hawa nafsu)-nya.
Sebaliknya, agama (Islam) menganjurkan kita untuk lebih intensif dalam memupuk kekayaan jiwa (ghina al-nufus). Dalam QS Ali Imran di atas sempat disinggung secara implisit pada akhir ayat, bahwa dari sekian macam kesenangan duniawi itu, betapa pun ada yang jauh lebih baik, yakni surga Allah. Dalam ayat lanjutannya, Ali Imran: 15, disebutkan bahwa surga itu disediakan bagi mereka yang bertakwa. Inilah yang dimaksud kekayaan jiwa itu, yang tak lain adalah perasaan iman dan takwa di dalam hati, yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari melalui amal ibadah, baik berupa pikiran, perkataan, dan tingkah laku fisik (lahiriah). Orang yang kaya hati, kaya jiwa, hanya mengambil dunia sekadarnya, sejauh yang dibutuhkannya; ia cinta dunia, tetapi tidak gila dunia, sehingga tak sudi memperbudak diri di hadapan nafsu. Orang-orang seperti inilah yang terpuji dan beruntung. “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya” (QS al-Nazi’at: 40-41).
Khatimah
Suatu hari Mullah Nasruddin mampir ke masjid, karena ia mendengar seruan untuk salat (azan). Ia pun menambatkan kudanya di halaman masjid, lalu bergegas wudhu dan masuk ke masjid untuk salat berjamaah. Tetapi, malang tak dapat diraih untung tak dapat ditolak, ketika sang sufi dari Arsekhir itu keluar dari masjid seusai salat jamaah, ia mendapati keledainya sudah tidak ada. Awalnya ia menggerutu dan sedih, tetapi kemudian tersenyum. Tentu saja orang-orang bertanya, “Mullah, Anda kehilangan keledai tunggangan Anda. Tetapi Anda malah tersenyum. Bagaimana tho?” Apa jawab Nashruddin? “Ya, tadinya aku pikir betapa sialnya aku hari ini,” katanya, “Tetapi setelah kurenungkan lagi, sepertinya tak perlu aku sesali. Biarlah keledaiku hilang, yang penting aku tidak kehilangan diri-ku.”
Dalam wacana tasawuf, diri berarti kesadaran, dan dalam maqam yang lebih tinggi lagi, ia bisa bermakna kesadaran-akan-Tuhan, God-realized, atau yang lazim kita sebut makrifat (ma’rifah). Nasruddin mengajarkan kepada kita, bahwa kesadaran, dan lebih mendasar lagi kekayaan jiwa berupa iman dan takwa, adalah jauh lebih utama dan lebih berharga dibanding banda, bandu, sentana, status sosial, atau apa pun lainnya dari kesenangan dan keindahan duniawi.
Nasruddin seperti hendak mewejangi para mantan caleg yang gagal masuk gedung dewan dan sudah telanjur mengeluarkan uang banyak itu, bahwa yang sudah hilang biarlah hilang, yang penting minimal Anda masih mempunyai diri Anda sendiri, Anda masih memiliki kesadaran bahwa diri Anda itulah harta yang utama. Inayat Khan, sufi dari India, mengatakan bahwa pada akhirnya semua milik kita itu: harta benda, jabatan, gelar, bahkan anak istri kita, akan hilang dari hadapan kita, sehingga yang tersisa tinggal diri kita sendiri.
Syukur-syukur, Anda malah bisa sampai pada taraf kesadaran, bahwa meski harta benda hilang tak berbekas sekalipun, akan tetapi saya masih memiliki harta yang paling utama, kekayaan yang paling utama, yakni kaya hati, kaya iman. Amien ya rabbal-‘alamin. Wallahu a’lam.[]
SI BUNTUNG DARI ZAMAKHSYAR
Beberapa abad silam, di sudut distrik terpencil Zamakhsyar, seorang bocah mungil asyik bermain-main dengan seekor anak burung. Ketika ibunya memanggil, si bocah tetap saja asyik bermain hingga akhirnya terjadilah sebuah tragedi: Bocah ini mematahkan kedua kaki anak burung. Binatang malang itu mencicit kesakitan, tetapi si bocah malah terbahak-bahak melihatnya.
Merasa panggilannya tak digubris, sang ibu menghampiri dengan marah. Dia bertambah murka ketika tahu anaknya berbuat dosa pada sang burung yang hampir putus kakinya. ”Oh, anakku. Bagaimana kau bisa seenaknya mematahkan kaki burung kecil itu? Itu berdosa anakku. Ia sangat kesakitan. Coba pikirkan jika itu terjadi padamu. Kamu akan menderita anakku. Kamu sungguh keterlaluan!”
Si bocah menggigil ketakutan. Baru kali ini ia melihat ibunya sedemikian marah, mengeluarkan kata-kata kasar dan mengerikan.
Beberapa belas tahun kemudian, si bocah itu sudah menjadi remaja yang matang. Ia tengah melakukan perjalanan pulang selepas menyelesaikan belajarnya di sebuah madrasah di Iran. Malang, tiba-tiba seekor kalajengking menyerang kudanya. Sang kuda meringkik, terhuyung, kemudian terjerambab dan sang penunggang jatuh terjungkal.
Singkat cerita, sesampai remaja ini di rumah, ternyata kedua kakinya terkilir hebat dan, menurut tabib setempat, tidak bisa dipulihkan. Satu-satunya jalan keluar adalah mengamputasinya. Ia pun mesti menerima takdir Allah itu dengan ikhlas dan pasrah, menjadi manusia berkaki buntung.
Sang ibu benar-benar terpukul atas nasib yang menimpa anaknya itu. Namun, suatu malam, sehabis salat tahajud, sang ibu tersadar bahwa ”kata-kata buruk” yang dia ucapkan belasan tahun lalu kepada si bocah kecil yang mematahkan kaki burung itu rupanya kini jadi kenyataan. Dalam larut atas rasa berdosa yang tak terkendali ia pun berdoa pada Allah agar di kemudian hari, meski cacat tubuh, sang anak bisa menjadi manusia yang berguna bagi Islam dan kaum Muslim.
Doa baik sang ibu dikabulkan Allah. Anak itulah yang di kemudian hari kita kenal sebagai Abu Qasim Azzamakhsyari, seorang ulama paling brilian di zamannya, sekaligus cendekiawan garda depan Muktazilah dengan karya tafsirnya yang terkenal hingga hari ini,
Alkasysyaf.
Dialah satu-satunya ulama yang buntung kedua kakinya, dan itu diyakini buah dari ”kata-kata buruk” sang ibu. Ia menjadi tokoh ternama, dan itu juga diyakini sebagai buah dari ”kata-kata mulia” sang ibu. Benar sabda nabi saw bahwa salah satu doa yang pasti dikabulkan Allah adalah yang terucap dari mulut orang tua (demi nasib anaknya). Maka, berhati-hatilah berucap untuk anak-anak kita.
Wallahu a’lam.
SYIRIK SOSIAL
Adapun syirik sosial adalah sebutan untuk varian sikap loyal yang berlebihan pada –untuk menyebut beberapa– status sosial, nasab, juga harta-benda.
Terhadap syirik sosial, Islam sangat menentang. Dalam perspektif tauhid, kemuliaan tertinggi hanyalah milik Allah. Semua manusia sama di hadapan-Nya, yakni sebagai hamba. Kualitas manusia hanya dilihat dari takwanya (QS 49: 13).
Dalam perspektif tauhid, semua kaum mukmin adalah bersaudara (QS 49: 10), satu dalam iman dan akidah Islam, sama-sama hamba Allah, sehingga tidak sepatutnya ada pengkotak-kotakan berdasar silsilah ataupun keturunan.
Dalam perspektif tauhid pula, segala sesuatu, termasuk kekayaan, adalah milik Allah, dan orang-orang kaya mesti menyisihkan sebagian harta-bendanya untuk kaum miskin (dhuafa). Sabda Nabi SAW, ”Allah berkata, harta-benda adalah milik-Ku, dan orang-orang kaya adalah wakil-wakil-Ku (di bumi).”
Untuk sekarang, hampir bisa dipastikan, kita sulit menjumpai perilaku-perilaku syirik akidah. Seiring laju modernisasi, amat jarang orang yang masih percaya ada kekuatan di balik benda-benda ataupun kekuatan gaib metafisik.
Namun, fenomena syirik sosial justru begitu menggejala. Manusia kini sangat terobsesi, misalnya, dengan pangkat dan jabatan. Ketika keduanya didapat, ia akan mencintai dan sebisa mungkin mempertahankannya sehidup semati, dengan jalan apa pun. Juga tidak peduli hukum Allah. Karena, loyalitas bukan lagi kepada Tuhan, tetapi pada pangkat dan jabatan itu sendiri.
Manusia sekarang juga sangat mengagungkan komunalisme. Mereka terbagi dalam ikatan kedaerahan, etnografi, kesukuan tertentu. Masing-masing fanatik dengan ikatannya sendiri-sendiri, merasa paling hebat dan terbaik, dan akhirnya resisten terhadap eksistensi komunitas lain.
Sedemikian loyal terhadap ikatan tersebut, sehingga mereka pun tak segan-segan bertindak anarkis untuk mempertahankan identitas ikatannya, tanpa peduli aturan Allah. Sikap loyal mereka bukan lagi kepada (ajaran) Tuhan, tetapi pada kelompoknya.
Manusia sekarang juga pengagung harta. Mereka sudi berbuat apa saja untuk mendapatkan dan mempertahankannya. Sebab, dalam pikiran mereka, harta adalah segala-galanya, yang akan membawa kesenangan duniawi tiada tara.
Dari pengagungan yang berlebihan, lahirlah cinta. Kalau sudah cinta, segala aturan apa pun yang mengharuskannya bersikap dermawan dan sosial, tidak akan pernah digubrisnya. Allah, misalnya, mengharuskan dia berzakat, berinfak, dan bersedekah, untuk menyucikan hartanya. Namun, karena loyalitasnya kepada harta lebih besar dibanding kepada Allah, ia enggan melakukan itu semua. Wallahu a’lam. (RioL)
Suratan Takdir
Konon, dahulu ada dua bersaudara yang tinggal dalam satu rumah bertingkat. Yang satu, seorang ahli ibadah (‘abid), tinggal di ruang atas. Sedangkan saudaranya, seorang yang gemar bermaksiat (mudznib) tinggal di ruang bawah. Kedua ruangan itu dihubungkan oleh sebuah tangga. Keduanya sama-sama sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Yang satu sibuk dengan ibadahnya, sedangkan yang satunya lagi larut dengan kemaksiatannya sepanjang waktu.
Hingga suatu waktu, ketika usia mereka sudah sekitar 40 tahun, Iblis mendatangi si ‘abid dan merayunya dengan segala cara. Termakan rayuan Iblis, akhirnya tebertik pikiran kotor di dalam hatinya: “Apa salahnya aku ikut berbuat maksiat seperti yang dilakukan saudaraku di bawah sana. Aku telah mengisi separuh waktu hidupku dengan ibadah. Jika sisa umurku ini aku gunakan untuk berbuat dosa, setelah itu aku bertaubat, tentu saja impas. Aku akan diampuni oleh Allah, dan aku akan masuk surga. Baiklah, mulai hari ini aku akan bergabung dengan saudaraku di bawah sana, bermaksuat ria.”
Sementara di ruang bawah, saudara si ‘abid, yakni sang pendosa justru tengah memikirkan hal sebaliknya. Kata si mudznib: “Duhai, betapa celaka aku ini. Aku habiskan separuh hidupku dengan bermaksiat, sedangkan saudaraku di ruang atas mengisi hari-harinya dengan amal ibadah. Dia pasti akan masuk surga, sementara aku akan masuk neraka. Ah, aku akan bertaubat. Aku akan menghabiskan umurku bersama saudaraku di ruang atas dalam laku ibadah. Semoga amal-amal burukku akan terhapus.”
Maka sang ‘abid segera melangkah untuk turun melalui tangga penghubung. Sementara si mudznib juga tengah bergegas untuk naik melaluinya. Akan tetapi, karena kondisinya yang rapuh, tiba-tiba salah satu anak tangga patah. Kaki si ‘abid terpeleset. Itu membuatnya jatuh terpelanting, dan celakanya menimpa saudaranya, si mudznib yang kebetulan tepat berada di bawahnya karena hendak naik. Akibat kecelakaan itu, kedua-duanya tewas seketika.
Ada hal mendasar yang membedakan status keduanya, terutama di hadapan Allah. Si ‘abid mati dengan membawa niat bermaksiat, artinya su’ul khatimah. Sebaliknya, saudaranya, si mudznib, mati dengan membawa niat bertaubat, artinya husnul khatimah. Dalam konteks inilah Nabi Saw bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya seseorang beramal dengan amal ahli surga, sehingga jarak dia ke surga tinggal sehasta. Akan tetapi suratan takdirnya adalah di neraka, maka (di akhir usianya) dial dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak dia ke neraka tinggal sehasta, tetapi suratan takdirnya di surga, maka (di akhir usianya) dia beramal dengan amalan ahli surga beramal dengan amalan ahli neraka.” (Muttafaq Alaih, dalam Arba’in Nawawiah). Hadis ini tidak serta merta mengajak kita untuk bersikap pasif, tidak usah berusaha beramal sebaik-baiknya demi meraih surga, karena jika ternyata takdir kita di neraka, maka sia-sialah amal kita; atau jika takdir kita di surga, maka beramal baik sesunngguhnya hanya buang-buang waktu. Betapa pun, surga dan neraka adalah urusan Allah semata. Kita tidak tahu apakah kita akan masuk surga ataukah neraka, dan justru karena ketidaktahuan itulah, maka kita musti beramal saleh. Sejatinya, pelajaran yang bisa kita petik dari hadis di atas, bahwa seseorang yang rajin ibadah tidak boleh sombong dan “merasa aman”, bahwa dirinya pasti akan masuk surga, karena kesombongannya itu akan membuka peluang bagi setan untuk menjerumuskan jalan hidupnya berbalik 180 derajat. Sebaliknya, meski seseorang berlumuran dosa, dia tidak boleh bersikap pesimis dan putus asa dari rahmat Allah. Dia harus yakin bahwa kasih sayang-Nya lebih luas dari kemarahan-Nya. Jika mau bertaubat, niscaya hidayah Allah akan tercurah padanya, sehingga dia terbimbing ke jalan yang diridhai-Nya. Wallahu a’lam.[]