Gus Broer

(Sabrur R. Soenardi)

Archive for the ‘rahmat’ Category

MUJAHADAH DIRI

without comments

“Mujahadah diri” (mujahadah al-nafs) adalah perjuangan sungguh-sungguh atau jihad melawan ego atau nafsu pribadi. Kenapa jihad atau perang terhadap nafsu pribadi menjadi sesuatu yang penting? Jika kita telusuri dari sudut pandang normatifnya, jelas karena agama sangat menganjurkan lelaku atau amaliah ini. Sampai-sampai, Nabi Saw menyebutnya sebagai jihad akbar (al-jihad al-akbar), yang nilainya lebih utama dibanding jihad memerangi orang-orang kafir (qital) yang disebut oleh beliau sebagai jihad kecil (al-jihad al-asghar).
Jika kita menilik secara hakiki, nafsu-diri, atau disebut sebagai hawa nafsu, merupakan “poros kejahatan” (ma’wa kulli syarrin). Karena, nafsu-diri memiliki kecenderungan untuk mencari pelbagai kesenangan, masa bodoh terhadap hak-hak yang musti ditunaikan, serta abai terhadap kewajiban-kewajiban. Siapa pun yang gemar menuruti apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya, maka sesungguhnya ia telah tertawan dan diperbudak oleh nafsunya itu. Inilah kenapa Nabi Saw menegaskan bahwa jihad melawan nafsu lebih dahsyat daripada jihad melawan musuh (qital). Sebabnya adalah, nafsu itu digemari, disenangi, dicintai, dan segala hal yang mengarah kepada nafsu pastilah menyenangkan. Sehingga, jihad melawan hawa nafsu adalah jihad melawan hal-hal yang kita senangi, yang kita cintai. Sebaliknya, jihad melawan orang-orang kafir adalah jihad melawan sesuatu (manusia, makhluk) yang kita musuhi, kita benci.
Bagaimana halnya dengan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh sekelompok kecil kaum Muslim yang mengatasnamakan jihad? Tentu saja, harus dipahami terlebih dahulu, bahwa nilai kebenaran yang mereka perjuangkan, yakni jihad fi sabilillah, itu adalah semu belaka, karena hanya fantasi dan ilusi pribadi mereka sendiri, yang sesungguhnya lebih berdasar pada hawa nafsu daripada pertimbangan keagamaan yang rasional dan sahih, sehingga sesungguhnya mereka tidak sedang melakukan jihad (mujahadah nafsu), tetapi sebaliknya: penghambaan pada nafsu pribadi, baik nafsu dalam arti orientasi ijtihad (pemikiran pribadi tentang perang itu sendiri), maupun nafsu dalam arti keinginan untuk melenyapkan orang lain yang nota bene sesama manusia.
Kembali ke tema utama, sesungguhnya “mujahadah diri” dimulai dengan cara memusuhi nafsu-diri, mengangkat paji peperangan terhadapnya. Allah berfirman: “Orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami…” (QS al-Ankabut: 69). Dalam kaitan ini Imam Ibn al-Qayyim berkata: “Allah menggantungkan hidayah dengan laku jihad. Maka orang yang paling sempurna hidayah (yang diperoleh)-nya adalah dia yang paling besar laku jihadnya. Jihad yang paling fardu adalah jihad melawan nafsu, melawan syahwat, melawan syetan, melawan rayuan duniawi. Siapa yang bersungguh-sungguh dalam jihad melawan keempat hal tersebut, Allah akan menunjukkan padanya jalan ridha-Nya, yang akan mengantarkannya ke pintu surga-Nya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan jihad, maka ia akan sepi dari hidayah…”
Sesungguhnya, banyak jalan menuju “mujahadah diri”. Salah satu yang bisa disebut di sini adalah dengan cara merenungi akibat/dampak dari kebaikan (natijah al-hasanat) dan akibat/dampak kejahatan (natijah al-sayyiat). Allah Swt berfirman: “Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri. Jika kamu berlaku jahat, maka kamu berbuat jahat pada dirimu sendiri.” (QS Al-Isra: 7). Menafsirkan ayat ini, sebagian ulama salaf berkata: “Sesungguhnya amal kebaikan melahirkan cahaya di dalam kalbu, kesehatan pada badan, kecerahan pada wajah, keluasan pada rizki, serta kecintaan dari segala makhluk. Sedangkan kejahatan, sebaliknya, menciptakan kegelapan di hati, keringkihan di badan, kesuraman di wajah, kesempitan pada rizki, serta kebencian dari hati segala makhluk.”
Para pelaku tindak kriminal di sekitar kita, seperti para koruptor, pemakai narkoba, pembunuh, misalnya, adalah orang-orang yang gagal dalam laku mujahadah diri. Sebaliknya, mereka malah menuruti segala keinginan dan syahwat diri, sehingga mereka tertawan dan diperbudak olehnya. Mereka tidak pernah menyadari tentang buah kejahatan yang akan datang menjelang, cepat atau lambat. Yang mereka pikirkan adalah bayangan semu tentang kenikmatan sesaat nan instan. Na’udzu billah, semoga kita dihindarkan cara pandang sedemikian. Wallahu a’lam.[]

Written by gusbroer

Oktober 26, 2008 at 4:40 pm

Ditulis dalam Tasawuf

Kunci Surga

with one comment

Sesungguhnya amal perbuatan kita tidak bisa menjamin keselamatan kita di akhirat kelak. Sebab, seberapa pun besar amal ibadah kita, sebenarnya sudah dikompensasi dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita di dunia ini. Nabi Saw dalam hal ini pernah bercerita tentang seorang ahli ibadah di masa lalu (zaman Musa As) yang beribadah selama 500 tahun. Ketika mati, Allah berfirman bahwa ia masuk surga karena rahmat-Nya, bukan karena amalnya. Sang hamba protes keras, karena merasa ibadahnya yang 500 tahun tidak dinilai apa-apa. Allah kemudian menyuruh malaikat untuk menimbang amal 500 tahun si hamba dengan nikmat sebiji mata yang Dia berikan kepada si hamba di dunia. Hasilnya, nikmat sebiji mata itu timbangannya lebih berat.
Oleh karena itulah, kata Nabi kemudian, satu-satunya penentu keselamatan kita adalah rahmat atau kasih sayang Allah. Meskipun amal ibadah seorang Mukmin sepenuh langit dan bumi, jika Allah tidak memberikan rahmat-Nya, tentu jalan ke surga tidak semulus yang dikira. Sebaliknya, meski dosa seorang Mukmin seluas langit dan bumi, tetapi Allah berkenan memberikan rahmat-Nya, tentu saja ia sah-sah saja masuk ke surga Allah. Banyak atau sedikit amal tidak berpengaruh secara signifikan, tetapi rahmat Allah sajalah yang menjadi penentu terpenting. Tetapi, persoalannya adalah, siapakah dia Mukmin yang memenuhi syarat untuk memperoleh rahmat-Nya? Sebab, tentu rahmat Allah tidak menghinggapi seseorang secara serampangan bukan?
Tahukah Anda, bahwa salah satu Mukmin yang memenuhi syarat untuk memperoleh rahmat-Nya itu adalah dia yang menunaikan ibadah puasa pada bulan Ramadhan? Sebab, Nabi Saw bersabda, bahwa bulan puasa dipecah menjadi tiga bagian. Sepertiga yang pertama adalah jaminan rahmah (kasih sayang), sepertiga yang kedua adalah jaminan maghfirah (ampunan), dan sepertiga yang terakhir adalah jaminan ‘idq min al-nar (pembebasan dari api neraka). Jadi, dengan demikian, ketika seorang Mukmin menunaikan kewajiban puasanya di bulan Ramadhan, sejatinya sudah mendapatkan kunci atau tiket menuju surga. Sebab, ketika seorang Mukmin berpuasa, bukan hanya kasih sayang (rahmah) saja yang dia dapatkan dari Allah, namun juga ampunan dan kebebasan dari nyala api neraka. Bahkan, sebuah pintu surga telah secara khusus dirancang untuk mereka-mereka yang berpuasa itu, yakni sebuah pintu yang bernama Rayyan.
Namun demikian, tentu saja tidak setiap yang berpuasa lantas secara otomatis mendapatkan kunci surga tersebut. Ada syarat penting yang harus dipenuhi, yakni bahwa puasanya adalah puasa yang berkualitas. Apakah puasa yang berkualitas itu? Yakni puasa yang benar-benar didasari oleh imanan wa ihtisaban, iman dan demi mengharap ridha Allah; puasa yang benar-benar bisa menjadi “junnah”, menjadi tameng atau perisai diri dari segala desakan dan dorongan nafsu; puasa yang bisa mengarahnya segenap sarana indriawinya untuk hanya mencerap, melihat, mendengar, merasakan, menyentuh, serta membicarakan hal-hal yang baik saja; puasa yang bisa mengarahkan hatinya untuk selalu berfokus dan mengingat Allah di segala situasi dan kondisi; bukan puasa yang sekadar memenuhi syarat dan rukun saja, sekadar menggugurkan kewajiban saja, bukan puasa yang hanya malah menjadikan pelakunya tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Wallahu a’lam.

Written by gusbroer

Oktober 26, 2008 at 3:54 pm

Ditulis dalam puasa, rahmat, surga