TIDUR QAILULAH

Dalam kebiasaan modern kita mengenal tidur siang. Lama tidurnya sebentar saja, seketika. Dalam bahasa Inggris disebut afternoon nap, sedangkan dalam bahasa Latin disebut siesta. Pengamal siesta kebanyakan adalah orang-orang Meksiko dan Spanyol. Dalam sudut pandang Barat-modern, tidur siang adalah kebiasaan yang penting, karena konon akan dapat menunjang kesehatan, kesegaran, dan produktivitas.
Sedangkan dalam tradisi Islam, tidur siang merupakan sunnah, yang sudah diamalkan oleh Rasul Saw semenjak 14 abad yang lampau. Para ulama menyebutnya sebagai tidur qailulah. Kitab klasik yang menyinggung kebiasaan Nabi Saw ini adalah Misykatul Mashabih. Hanya saja, berbeda dengan motivasi orang Barat-modern yang menjadikan tidur siang (afternoon nap, siesta) sebagai “penggugah” kesegaran dan produktivitas tubuh (fisik), penunjang kesehatan, dan sejenisnya, dalam wawasan Islam tidur siang (qaiulah) adalah sebagai “barter” atau kompensasi atas ibadah yang akan dilakukan pada malam harinya. Jadi, ketika kita misalnya hari tidur siang dengan niat qailulah, tidak ubahnya kita mengambil jatah tidur kita nanti malam, karena pada malam hari nanti kita hendak berjaga demi beribadah kepada Allah.
Dengan kata lain, tidur qailulah ini merupakan hak bagi orang-orang yang gemar melakukan tahajud. Tidur mereka di malam hari dikurangi pada siang harinya. Akan tetapi, berjaga mereka di malam hari bukan untuk bergadang atau kegiatan lain yang tak bermanfaat, melainkan demi mengingat Allah: salat tahajud, berzikir, tadarus, dll.
Waktu qailulah adalah sehabis salat zuhur hingga waktu ashar, itu pun hanya sekadarnya saja, sekira dua puluh sampai tiga puluh menit. Umumnya kita tidur siang pada Ramadhan saja, dengan argument klise bahwa “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”, dan mungkin sama sekali tidak berkaitan dengan “persiapan” qiyamullail (tarawih)—karena kebiasaan kita tarawih sehabis salat isya (belum waktu tidur). Menurut sebuah riwayat, selama empat puluh tahun Imam Abu Hanifah tidur qailulah setiap hari, baik Ramadhan atau bukan. Akan tetapi, sebagai “kompensasi”-nya, Abu Hanifah tidak pernah tidur di malam hari; sepanjang malam beliau beribadah kepada Allah Swt.
Khalifah Umar bin Khattab suatu kali berkunjung ke Iskandariah, yang waktu itu gubernurnya adalah Mu’awiyah bin Khudaij. Dia melihat banyak orang yang tidur siang (qailulah). Akan tetapi, gubernur Mu’awiyah tidak melakukan hal demikian. Khalifah bergelar Al-Faruq itu berkata, “Aku pikir kamu ikut-ikutan tidur siang. Jika kamu tidur siang hari, kamu akan melalaikan hak rakyat. Tetapi jika kamu tidur malam hari, kamu akan melalaikan hak Allah. Lantas, bagaimana kamu membagi waktumu?”
Dari satu pandang tertentu (baca: kemaslahatan manusia), Umar seakan-akan hendak menegaskan, bahwa tidur qailulah bukanlah sesuatu yang prinsip, karena ada yang lebih penting dari itu, yakni menjalankan tugas dan kewajiban sebagai pelayan masyarakat. Wawasan ini tentu bisa menjadi kritik bagi kebiasaan para pejabat kita, yang justru mengantuk dan tidur di saat seharusnya dia menyelesaikan masalah-masalah rakyat. Dan kita tidak tahu, apakah mereka ngantuk, tidur, di dalam forum seperti itu disebabkan malam harinya beribadah, bertafakur memikirkan masalah umat, atau jangan-jangan dikarenakan kebanyakan bergadang yang tak bermanfaat, perutnya kekenyangan? Wallahu a’lam.[]