Al-Quran menyatakan: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari, dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu, dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana (QS al-Nur/24: 58).
Mengapa hanya di tiga waktu tersebut? Sebab, ketiga waktu tersebut merupakan aurat bagi orang tua mereka. Pada tiga waktu itu, apabila mereka (anak-anak) ingin bertemu, atau ingin memasuki kamar orang tua mereka (begitu pula para pembantu dan abdi keluarga), harus meminta izin kepada orang tua mereka. Ini ditekankan, agar aurat kedua orang tua mereka terjaga, atau dikhawatirkan aurat orang tua mereka terlihat.
Maksudnya aurat, bahwa pada tiga waktu tersebut, kebanyakan orang (para orang tua) mengenakan pakaian tidur, sebab tiga waktu itu merupakan waktu istirahat. Sudah menjadi kelaziman sejak kapan pun dan di mana pun, kebanyakan orang pada waktu istirahat mengenakan pakaian ‘ringan’ untuk melepas lelah, usai melakukan aktivitas dan pekerjaan yang mereka tunaikan pada siang hari.
Jika kita merenung sejenak, sungguh betapa agung risalah Islam. Keharusan meminta izin bagi anak-anak pada tiga waktu tersebut merupakan wujud nyata perihal pendidikan seks Islami bagi anak-anak, pendidikan yang idealnya memang musti sudah mulai ditanam sejak usia dini. Anak-anak Islam sejak belia diajari menghormati aurat orang tua mereka. Dan keharusan meminta izin bukan semata untuk menghormati, lebih daripada itu agar tatapan anak-anak jangan sampai melihat aurat orang tua mereka. Bahkan keharusan meminta izin memasuki kamar orang tua maupun memasuki rumah sanak kerabat terus berlangsung hingga mereka berusia remaja dan dewasa, sebagaimana dinyatakan al-Qur’an: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat (QS al-Nur/24: 27).
Ajaran Islam menuntun moral luhur anak sejak usia dini, mengajarkan kepada mereka etika kesantunan dan penghormatan kepada orang tua mereka, menjaga penglihatan mereka dari hal-hal yang buruk—tidak sesuai dengan nilai-nilai syariat. Semua itu merupakan tiang pancang yang kokoh untuk membentengi perilaku dan moral anak, supaya kelak ketika menginjak usia puber, mereka tetap pada koridor kebenaran serta pada jalur syariat. Lebih daripada itu, tuntunan moral seperti itu merupakan langkah bijak agar nantinya anak-anak ketika dewasa tidak rapuh menghadapi godaan hidup yang dapat meruntuhkan sendi-sendi moralitas mereka, persisnya yang akan menjerambabkan mereka ke dalam tindak perzinaan. Sebagaimana kita ketahui, dan telah diamini oleh ara ahli, bahwa ternyata memori anak-anak ketika “melihat aurat orangtua” atau lebih persisnya ketika “melihat orangtua berhubungan seks” di masa kanak-kanak secara psikologis ikut menyumbang potensi penyimpangan seksual di masa remaja. Maka, sungguh Mahabenar Allah dengan firman-Nya pada ayat di atas. Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s