Di dalam QS ar-Ra’d: 11, Allah berfirman, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka (kaum tersebut) mengubah diri mereka sendiri.” Di sini ada kata kunci ‘diri’ (dalam ayat tersebut anfus, jamak dari nafs). Dalam terminologi sosial, kata ‘diri’ (anfus, nafs) ini mengingatkan kita pada ‘individu’. Sampai di sinilah, sebelum ada pernyataan populer dalam sosiologi (bahwa), “perubahan struktural tak akan pernah terjadi tanpa didahului perubahan kultural, dan perubahan kultural tak akan pernah terjadi tanpa perubahan inidividual,” ternyata jauh-jauh hari Q.S. ar-Ra’d: 11 telah mengekspresikannya.
Perubahan. Kata yang satu ini menarik jika menjadi poros refleksi kita semua. Sebuah komunitas, mustahil akan menggapai kemajuan (progresivitas) tanpa adanya kemauan untuk berubah. Tak ayal, isu ‘perubahan’ merupakan hal yang niscaya bagi eksistensi kaum Muslim masa kini. Tentu saja, yang dimaksud adalah perubahan menuju yang lebih baik (progresivitas), dan itu mencakup dua hal: intelektualitas dan prestasi (kontribusi kultural), atau: ilmu dan amal.
Karena merupakan keniscayaan, maka setiap orang (individu) berkewajiban terlibat dalam ‘proyek’ ini. Sebab, seperti peringatan Rasul, “Siapa yang tidak memperhatikan kepentingan kaum Mukmin, ia bukan golongan mereka” (Man la yahtamm bi-amril-mu’minin, falaisa minhum, HR Muttafq Alaih).
Yang sangat disayangkan, banyak di antara kita yang mengambil sikap pesimis ketika dihadapkan pada ‘isu besar’ ini. Mereka beralasan, bahwa sistem yang kita pakai sudah ‘sesat’. Kita tidak akan mengalami perubahan tanpa mengubah sistem terlebih dulu. Padahal, justru di situlah pangkal masalahnya. Kita tidak akan bisa mengubah sistem tanpa dimulai oleh setiap diri (individu), nafs. Makanya, benar kata Nabi Saw, “Ibda’ binafsik (mulailah dari dirimu).”
Memang, tentunya banyak sekali kendala ketika coba menapakkan diri kita di atas langkah perubahan. Apalagi perubahan menuju kebaikan. Selalu ada halang-rintang di setiap jalan kebaikan. Yang paling kentara, biasanya, adalah lingkungan kita, yang tidak semuanya mendukung—mungkin sebagai akibat dari sistem jahat dan ‘jorok’ yang telah mengakar lama.
Namun, hal itu hendaknya tidak menjadi sebab kepesimisan kita. Setidaknya kita tetap mengacu pada dua filosofi dasar. Pertama, dengan memulai dari diri sendiri, kita akan menjadi teladan. Meski mungkin membutuhkan waktu yang lama, tetapi keteguhan (sikap istiqomah) kita akan memicu keikutsertaan orang lain, keluarga kita, tetangga-tetangga kita, dan seterusnya, sedikit demi sedikit.
Kedua, andaipun kita tidak bisa menyaksikan hasil keteladanan kita itu sekarang, kita mustilah optimis hasil itu akan muncul di masa mendatang. Bayangkan jika anak-anak kita mewariskan keteladanan tersebut kepada cucu-cucu kita, lalu cucu-cucu kita meneruskannya kepada generasi selanjutnya, tidakkah kemudian yang terjadi adalah perubahan yang menyeluruh (total)?
Sebagaimana diajarkan Nabi, ilmu kita mustilah selalu ditingkatkan saban harinya (rabbi zidni ‘ilman), demikian juga amal ibadah kita (khairan min amsihi). Persoalannya, kita seringkali terkungkung oleh tradisi dan prasangka yang melenakan, yang menyebabkan kita malas untuk berubah, malas untuk melangkah maju. “Kemauan untuk berubah,” itulah yang terpenting.(*)

2 thoughts on “IBDA’ BINAFSIK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s