Sesungguhnya amal perbuatan kita tidak bisa menjamin keselamatan kita di akhirat kelak. Sebab, seberapa pun besar amal ibadah kita, sebenarnya sudah dikompensasi dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita di dunia ini. Nabi Saw dalam hal ini pernah bercerita tentang seorang ahli ibadah di masa lalu (zaman Musa As) yang beribadah selama 500 tahun. Ketika mati, Allah berfirman bahwa ia masuk surga karena rahmat-Nya, bukan karena amalnya. Sang hamba protes keras, karena merasa ibadahnya yang 500 tahun tidak dinilai apa-apa. Allah kemudian menyuruh malaikat untuk menimbang amal 500 tahun si hamba dengan nikmat sebiji mata yang Dia berikan kepada si hamba di dunia. Hasilnya, nikmat sebiji mata itu timbangannya lebih berat.
Oleh karena itulah, kata Nabi kemudian, satu-satunya penentu keselamatan kita adalah rahmat atau kasih sayang Allah. Meskipun amal ibadah seorang Mukmin sepenuh langit dan bumi, jika Allah tidak memberikan rahmat-Nya, tentu jalan ke surga tidak semulus yang dikira. Sebaliknya, meski dosa seorang Mukmin seluas langit dan bumi, tetapi Allah berkenan memberikan rahmat-Nya, tentu saja ia sah-sah saja masuk ke surga Allah. Banyak atau sedikit amal tidak berpengaruh secara signifikan, tetapi rahmat Allah sajalah yang menjadi penentu terpenting. Tetapi, persoalannya adalah, siapakah dia Mukmin yang memenuhi syarat untuk memperoleh rahmat-Nya? Sebab, tentu rahmat Allah tidak menghinggapi seseorang secara serampangan bukan?
Tahukah Anda, bahwa salah satu Mukmin yang memenuhi syarat untuk memperoleh rahmat-Nya itu adalah dia yang menunaikan ibadah puasa pada bulan Ramadhan? Sebab, Nabi Saw bersabda, bahwa bulan puasa dipecah menjadi tiga bagian. Sepertiga yang pertama adalah jaminan rahmah (kasih sayang), sepertiga yang kedua adalah jaminan maghfirah (ampunan), dan sepertiga yang terakhir adalah jaminan ‘idq min al-nar (pembebasan dari api neraka). Jadi, dengan demikian, ketika seorang Mukmin menunaikan kewajiban puasanya di bulan Ramadhan, sejatinya sudah mendapatkan kunci atau tiket menuju surga. Sebab, ketika seorang Mukmin berpuasa, bukan hanya kasih sayang (rahmah) saja yang dia dapatkan dari Allah, namun juga ampunan dan kebebasan dari nyala api neraka. Bahkan, sebuah pintu surga telah secara khusus dirancang untuk mereka-mereka yang berpuasa itu, yakni sebuah pintu yang bernama Rayyan.
Namun demikian, tentu saja tidak setiap yang berpuasa lantas secara otomatis mendapatkan kunci surga tersebut. Ada syarat penting yang harus dipenuhi, yakni bahwa puasanya adalah puasa yang berkualitas. Apakah puasa yang berkualitas itu? Yakni puasa yang benar-benar didasari oleh imanan wa ihtisaban, iman dan demi mengharap ridha Allah; puasa yang benar-benar bisa menjadi “junnah”, menjadi tameng atau perisai diri dari segala desakan dan dorongan nafsu; puasa yang bisa mengarahnya segenap sarana indriawinya untuk hanya mencerap, melihat, mendengar, merasakan, menyentuh, serta membicarakan hal-hal yang baik saja; puasa yang bisa mengarahkan hatinya untuk selalu berfokus dan mengingat Allah di segala situasi dan kondisi; bukan puasa yang sekadar memenuhi syarat dan rukun saja, sekadar menggugurkan kewajiban saja, bukan puasa yang hanya malah menjadikan pelakunya tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Wallahu a’lam.

One thought on “Kunci Surga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s