“Mujahadah diri” (mujahadah al-nafs) adalah perjuangan sungguh-sungguh atau jihad melawan ego atau nafsu pribadi. Kenapa jihad atau perang terhadap nafsu pribadi menjadi sesuatu yang penting? Jika kita telusuri dari sudut pandang normatifnya, jelas karena agama sangat menganjurkan lelaku atau amaliah ini. Sampai-sampai, Nabi Saw menyebutnya sebagai jihad akbar (al-jihad al-akbar), yang nilainya lebih utama dibanding jihad memerangi orang-orang kafir (qital) yang disebut oleh beliau sebagai jihad kecil (al-jihad al-asghar).
Jika kita menilik secara hakiki, nafsu-diri, atau disebut sebagai hawa nafsu, merupakan “poros kejahatan” (ma’wa kulli syarrin). Karena, nafsu-diri memiliki kecenderungan untuk mencari pelbagai kesenangan, masa bodoh terhadap hak-hak yang musti ditunaikan, serta abai terhadap kewajiban-kewajiban. Siapa pun yang gemar menuruti apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya, maka sesungguhnya ia telah tertawan dan diperbudak oleh nafsunya itu. Inilah kenapa Nabi Saw menegaskan bahwa jihad melawan nafsu lebih dahsyat daripada jihad melawan musuh (qital). Sebabnya adalah, nafsu itu digemari, disenangi, dicintai, dan segala hal yang mengarah kepada nafsu pastilah menyenangkan. Sehingga, jihad melawan hawa nafsu adalah jihad melawan hal-hal yang kita senangi, yang kita cintai. Sebaliknya, jihad melawan orang-orang kafir adalah jihad melawan sesuatu (manusia, makhluk) yang kita musuhi, kita benci.
Bagaimana halnya dengan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh sekelompok kecil kaum Muslim yang mengatasnamakan jihad? Tentu saja, harus dipahami terlebih dahulu, bahwa nilai kebenaran yang mereka perjuangkan, yakni jihad fi sabilillah, itu adalah semu belaka, karena hanya fantasi dan ilusi pribadi mereka sendiri, yang sesungguhnya lebih berdasar pada hawa nafsu daripada pertimbangan keagamaan yang rasional dan sahih, sehingga sesungguhnya mereka tidak sedang melakukan jihad (mujahadah nafsu), tetapi sebaliknya: penghambaan pada nafsu pribadi, baik nafsu dalam arti orientasi ijtihad (pemikiran pribadi tentang perang itu sendiri), maupun nafsu dalam arti keinginan untuk melenyapkan orang lain yang nota bene sesama manusia.
Kembali ke tema utama, sesungguhnya “mujahadah diri” dimulai dengan cara memusuhi nafsu-diri, mengangkat paji peperangan terhadapnya. Allah berfirman: “Orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami…” (QS al-Ankabut: 69). Dalam kaitan ini Imam Ibn al-Qayyim berkata: “Allah menggantungkan hidayah dengan laku jihad. Maka orang yang paling sempurna hidayah (yang diperoleh)-nya adalah dia yang paling besar laku jihadnya. Jihad yang paling fardu adalah jihad melawan nafsu, melawan syahwat, melawan syetan, melawan rayuan duniawi. Siapa yang bersungguh-sungguh dalam jihad melawan keempat hal tersebut, Allah akan menunjukkan padanya jalan ridha-Nya, yang akan mengantarkannya ke pintu surga-Nya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan jihad, maka ia akan sepi dari hidayah…”
Sesungguhnya, banyak jalan menuju “mujahadah diri”. Salah satu yang bisa disebut di sini adalah dengan cara merenungi akibat/dampak dari kebaikan (natijah al-hasanat) dan akibat/dampak kejahatan (natijah al-sayyiat). Allah Swt berfirman: “Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri. Jika kamu berlaku jahat, maka kamu berbuat jahat pada dirimu sendiri.” (QS Al-Isra: 7). Menafsirkan ayat ini, sebagian ulama salaf berkata: “Sesungguhnya amal kebaikan melahirkan cahaya di dalam kalbu, kesehatan pada badan, kecerahan pada wajah, keluasan pada rizki, serta kecintaan dari segala makhluk. Sedangkan kejahatan, sebaliknya, menciptakan kegelapan di hati, keringkihan di badan, kesuraman di wajah, kesempitan pada rizki, serta kebencian dari hati segala makhluk.”
Para pelaku tindak kriminal di sekitar kita, seperti para koruptor, pemakai narkoba, pembunuh, misalnya, adalah orang-orang yang gagal dalam laku mujahadah diri. Sebaliknya, mereka malah menuruti segala keinginan dan syahwat diri, sehingga mereka tertawan dan diperbudak olehnya. Mereka tidak pernah menyadari tentang buah kejahatan yang akan datang menjelang, cepat atau lambat. Yang mereka pikirkan adalah bayangan semu tentang kenikmatan sesaat nan instan. Na’udzu billah, semoga kita dihindarkan cara pandang sedemikian. Wallahu a’lam.[]

One thought on “MUJAHADAH DIRI

  1. Reblogged this on dewipur9899 and commented:
    “Mujahadah diri” (mujahadah al-nafs) adalah perjuangan sungguh-sungguh atau jihad melawan ego atau nafsu pribadi. Kenapa jihad atau perang terhadap nafsu pribadi menjadi sesuatu yang penting? Jika kita telusuri dari sudut pandang normatifnya, jelas karena agama sangat menganjurkan lelaku atau amaliah ini. Sampai-sampai, Nabi Saw menyebutnya sebagai jihad akbar (al-jihad al-akbar), yang nilainya lebih utama dibanding jihad memerangi orang-orang kafir (qital) yang disebut oleh beliau sebagai jihad kecil (al-jihad al-asghar).
    Jika kita menilik secara hakiki, nafsu-diri, atau disebut sebagai hawa nafsu, merupakan “poros kejahatan” (ma’wa kulli syarrin). Karena, nafsu-diri memiliki kecenderungan untuk mencari pelbagai kesenangan, masa bodoh terhadap hak-hak yang musti ditunaikan, serta abai terhadap kewajiban-kewajiban. Siapa pun yang gemar menuruti apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya, maka sesungguhnya ia telah tertawan dan diperbudak oleh nafsunya itu. Inilah kenapa Nabi Saw menegaskan bahwa jihad melawan nafsu lebih dahsyat daripada jihad melawan musuh (qital). Sebabnya adalah, nafsu itu digemari, disenangi, dicintai, dan segala hal yang mengarah kepada nafsu pastilah menyenangkan. Sehingga, jihad melawan hawa nafsu adalah jihad melawan hal-hal yang kita senangi, yang kita cintai. Sebaliknya, jihad melawan orang-orang kafir adalah jihad melawan sesuatu (manusia, makhluk) yang kita musuhi, kita benci.
    Bagaimana halnya dengan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh sekelompok kecil kaum Muslim yang mengatasnamakan jihad? Tentu saja, harus dipahami terlebih dahulu, bahwa nilai kebenaran yang mereka perjuangkan, yakni jihad fi sabilillah, itu adalah semu belaka, karena hanya fantasi dan ilusi pribadi mereka sendiri, yang sesungguhnya lebih berdasar pada hawa nafsu daripada pertimbangan keagamaan yang rasional dan sahih, sehingga sesungguhnya mereka tidak sedang melakukan jihad (mujahadah nafsu), tetapi sebaliknya: penghambaan pada nafsu pribadi, baik nafsu dalam arti orientasi ijtihad (pemikiran pribadi tentang perang itu sendiri), maupun nafsu dalam arti keinginan untuk melenyapkan orang lain yang nota bene sesama manusia.
    Kembali ke tema utama, sesungguhnya “mujahadah diri” dimulai dengan cara memusuhi nafsu-diri, mengangkat paji peperangan terhadapnya. Allah berfirman: “Orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami…” (QS al-Ankabut: 69). Dalam kaitan ini Imam Ibn al-Qayyim berkata: “Allah menggantungkan hidayah dengan laku jihad. Maka orang yang paling sempurna hidayah (yang diperoleh)-nya adalah dia yang paling besar laku jihadnya. Jihad yang paling fardu adalah jihad melawan nafsu, melawan syahwat, melawan syetan, melawan rayuan duniawi. Siapa yang bersungguh-sungguh dalam jihad melawan keempat hal tersebut, Allah akan menunjukkan padanya jalan ridha-Nya, yang akan mengantarkannya ke pintu surga-Nya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan jihad, maka ia akan sepi dari hidayah…”
    Sesungguhnya, banyak jalan menuju “mujahadah diri”. Salah satu yang bisa disebut di sini adalah dengan cara merenungi akibat/dampak dari kebaikan (natijah al-hasanat) dan akibat/dampak kejahatan (natijah al-sayyiat). Allah Swt berfirman: “Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri. Jika kamu berlaku jahat, maka kamu berbuat jahat pada dirimu sendiri.” (QS Al-Isra: 7). Menafsirkan ayat ini, sebagian ulama salaf berkata: “Sesungguhnya amal kebaikan melahirkan cahaya di dalam kalbu, kesehatan pada badan, kecerahan pada wajah, keluasan pada rizki, serta kecintaan dari segala makhluk. Sedangkan kejahatan, sebaliknya, menciptakan kegelapan di hati, keringkihan di badan, kesuraman di wajah, kesempitan pada rizki, serta kebencian dari hati segala makhluk.”
    Para pelaku tindak kriminal di sekitar kita, seperti para koruptor, pemakai narkoba, pembunuh, misalnya, adalah orang-orang yang gagal dalam laku mujahadah diri. Sebaliknya, mereka malah menuruti segala keinginan dan syahwat diri, sehingga mereka tertawan dan diperbudak olehnya. Mereka tidak pernah menyadari tentang buah kejahatan yang akan datang menjelang, cepat atau lambat. Yang mereka pikirkan adalah bayangan semu tentang kenikmatan sesaat nan instan. Na’udzu billah, semoga kita dihindarkan cara pandang sedemikian. Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s