Akhir-akhir ini, negeri kita banyak mengalami musibah dan bencana. Tak terhitung lagi banyaknya, selain juga jenisnya: bencana alam, terorisme, konflik antar kelompok, hingga kecelakaan transportasi yang tiada pernah nihil saban tahunnya.
Sesungguhnya, semua bencana tidak ada yang lepas dari kerja Allah. Hanya Allah semata yang tahu kategori musibah-musibah itu. Salah satu dari sekian musibah mungkin Dia maksudkan untuk membalas kezaliman yang telah kita lakukan. Yang lainnya barangkali sebagai peringatan atas kelalaian kita, agar kita segera kembali kepada-Nya. Yang lainnya lagi bisa jadi merupakan ujian bagi keimanan kita; semakin tinggi iman kita, semakin besar pula cobaan yang kita terima dari-Nya.
Sebagai manusia, wilayah kerja kita adalah hal-hal yang lahiriah saja, bahwa setiap peristiwa atau gejala lahiriah pastilah ada sebab-musababnya, termasuk musibah yang menimpa kita di alam dunia ini. Oleh sebab itu, ketika datang musibah, sikap kita yang pertama-tama dan minimal adalah menyelidiki sebab-sebab atau pelbagai alasan di baliknya, lalu kita analisis dengan ketajaman intuisi dan kedalaman pemikiran, demi mencari solusi terbaik agar kiranya di masa mendatang hal yang sama tak terjadi lagi.
Yang kedua, sikap terbaik atas setiap musibah yang datang adalah dengan bersabar. Apa itu sabar? Dalam definisi Hamd Hasan Raqith, dalam kitab Tajdid al-Iman (Dar Ibn Hazm, 1997: 107), sabar adalah ibadah hati (‘ibadah qalbiyyah), hal mana hakikatnya yakni mengekang diri kita dari perasaan marah dan kecewa terhadap keadaan, mencegah lisan dari ungkapan nggrundel, namun tetap dibarengi keteguhan dalam menjaga hukum-hukum Kitab dan Sunnah.
Mengapa kita musti mengedepankan sabar? Karena sabar adalah ciri keimanan. Berkata Imam Ahmad bin Hanbal: “Di dalam al-Qur’an, sabar disebut pada sekitar sembilan puluh tempat. Sabar adalah setengah keimanan. Iman adalah dua paruh. Separuhnya sabar, separuhnya lagi syukur. Seandainya tiada sabar, niscaya tak ada manusia yang kuat menghadapi bala-coba dalam kehidupannya, niscaya manusia gampang putus asa dalam mengarungi hidup. Allah menjadikan untuk setiap amal saleh ganjaran tertentu, kecuali sabar, maka ganjarannya tak terkira dan tak terhitung. “Orang-orang yang sabar kelak diberi pahala yang tak terhitungkan.” (QS al-Zumar: 10).
Karena merupakan ciri keimanan, maka sabar pun identik dengan orang Mukmin. Nabi Saw bersabda: “Sungguh ajaib perkara orang Mukmin. Hanya orang Mukmin saja, di mana setiap perkaranya adalah baik. Jika ia mendapat kelapangan dan ia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Sebaliknya, jika ditimpa kesempitan dan ia bersabar, itu pun menjadi kebaikan baginya.”
Dan akhirnya, inilah maqam tertinggi kesabaran, di mana Nabi Saw pernah bersabda: “Seorang Mukmin atau Mukminah yang selama hidupnya bencana menimpa dirinya, anaknya, harta bendanya, tetapi ia tetap bersabar, maka kelak ia menghadap Allah tanpa ada sedikit pun dosa.” (HR Turmudzi, katanya: hadis hasan sahih).
Semoga kita termasuk mereka-mereka yang diberi hati yang sabar. Amin.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s