Konon, dahulu ada dua bersaudara yang tinggal dalam satu rumah bertingkat. Yang satu, seorang ahli ibadah (‘abid), tinggal di ruang atas. Sedangkan saudaranya, seorang yang gemar bermaksiat (mudznib) tinggal di ruang bawah. Kedua ruangan itu dihubungkan oleh sebuah tangga. Keduanya sama-sama sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Yang satu sibuk dengan ibadahnya, sedangkan yang satunya lagi larut dengan kemaksiatannya sepanjang waktu.
Hingga suatu waktu, ketika usia mereka sudah sekitar 40 tahun, Iblis mendatangi si ‘abid dan merayunya dengan segala cara. Termakan rayuan Iblis, akhirnya tebertik pikiran kotor di dalam hatinya: “Apa salahnya aku ikut berbuat maksiat seperti yang dilakukan saudaraku di bawah sana. Aku telah mengisi separuh waktu hidupku dengan ibadah. Jika sisa umurku ini aku gunakan untuk berbuat dosa, setelah itu aku bertaubat, tentu saja impas. Aku akan diampuni oleh Allah, dan aku akan masuk surga. Baiklah, mulai hari ini aku akan bergabung dengan saudaraku di bawah sana, bermaksuat ria.”
Sementara di ruang bawah, saudara si ‘abid, yakni sang pendosa justru tengah memikirkan hal sebaliknya. Kata si mudznib: “Duhai, betapa celaka aku ini. Aku habiskan separuh hidupku dengan bermaksiat, sedangkan saudaraku di ruang atas mengisi hari-harinya dengan amal ibadah. Dia pasti akan masuk surga, sementara aku akan masuk neraka. Ah, aku akan bertaubat. Aku akan menghabiskan umurku bersama saudaraku di ruang atas dalam laku ibadah. Semoga amal-amal burukku akan terhapus.”
Maka sang ‘abid segera melangkah untuk turun melalui tangga penghubung. Sementara si mudznib juga tengah bergegas untuk naik melaluinya. Akan tetapi, karena kondisinya yang rapuh, tiba-tiba salah satu anak tangga patah. Kaki si ‘abid terpeleset. Itu membuatnya jatuh terpelanting, dan celakanya menimpa saudaranya, si mudznib yang kebetulan tepat berada di bawahnya karena hendak naik. Akibat kecelakaan itu, kedua-duanya tewas seketika.
Ada hal mendasar yang membedakan status keduanya, terutama di hadapan Allah. Si ‘abid mati dengan membawa niat bermaksiat, artinya su’ul khatimah. Sebaliknya, saudaranya, si mudznib, mati dengan membawa niat bertaubat, artinya husnul khatimah. Dalam konteks inilah Nabi Saw bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya seseorang beramal dengan amal ahli surga, sehingga jarak dia ke surga tinggal sehasta. Akan tetapi suratan takdirnya adalah di neraka, maka (di akhir usianya) dial dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak dia ke neraka tinggal sehasta, tetapi suratan takdirnya di surga, maka (di akhir usianya) dia beramal dengan amalan ahli surga beramal dengan amalan ahli neraka.” (Muttafaq Alaih, dalam Arba’in Nawawiah). Hadis ini tidak serta merta mengajak kita untuk bersikap pasif, tidak usah berusaha beramal sebaik-baiknya demi meraih surga, karena jika ternyata takdir kita di neraka, maka sia-sialah amal kita; atau jika takdir kita di surga, maka beramal baik sesunngguhnya hanya buang-buang waktu. Betapa pun, surga dan neraka adalah urusan Allah semata. Kita tidak tahu apakah kita akan masuk surga ataukah neraka, dan justru karena ketidaktahuan itulah, maka kita musti beramal saleh. Sejatinya, pelajaran yang bisa kita petik dari hadis di atas, bahwa seseorang yang rajin ibadah tidak boleh sombong dan “merasa aman”, bahwa dirinya pasti akan masuk surga, karena kesombongannya itu akan membuka peluang bagi setan untuk menjerumuskan jalan hidupnya berbalik 180 derajat. Sebaliknya, meski seseorang berlumuran dosa, dia tidak boleh bersikap pesimis dan putus asa dari rahmat Allah. Dia harus yakin bahwa kasih sayang-Nya lebih luas dari kemarahan-Nya. Jika mau bertaubat, niscaya hidayah Allah akan tercurah padanya, sehingga dia terbimbing ke jalan yang diridhai-Nya. Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s