Cinta, dalam maknanya yang luas, adalah kekuatan yang luar biasa. Cinta mendorong seseorang bertindak tanpa pamrih. Karena cinta, seseorang akan berbuat apa pun tanpa mempedulikan apakah keutungan atau kerugian yang akan diraihnya. Sebab dalam cinta, sakit dan penawarnya sama saja, begitu kata Jalaluddin Rumi. Karena cinta, seekor ngengat justru dengan sepenuh naluri melemparkan dirinya ke dalam nyala lilin, demikian kata Husain bin Manshur. Makanya, kata Konfusius, “Jika engkau bekerja, pilihkan pekerjaan yang engkau cintai, maka engkau seakan-akan bekerja selamanya.”
Suatu kali Ibrahim bin Adham bermimpi melihat seorang malaikat sedang membawa kitab dan menulis. “Apa yang sedang Anda tulis?” tanya Ibrahim. “Aku sedang mendaftar para kekasih (wali) Allah,” jawab malaikat. “Apakah namaku tertulis di situ?” tanya Ibrahim. “Namamu tidak tertulis di sini,” jawab malaikat. “Bagaimana mungkin namaku tidak tertulis. Andaikan aku bukan termasuk wali-wali Allah, setidaknya aku mencintai mereka (para wali Allah),” kata Ibrahim. Tiba-tiba seorang malaikat lain datang. “Tulislah namanya di atas nama-nama para wali Allah,” kata malaikat itu, sembari kemudian menyitir perkataan masyhur yang pernah diucapkan Nabi Saw, “Seseorang bersama yang dicintainya (Al-Mar’u ma’a man ahabba).” Kisah dalam kitab sufistik, Nafahat al-Uns, karya Jami, ini mengajarkan kepada kita, betapa bahwa karena sepotong cinta seseorang bisa terselamatkan.
Cinta pula—tentu saja dalam hal ini cinta karena Allah—yang kelak bisa membuat seseorang mendapat naungan Allah pada hari yang panas (hari kiamat, ketika matahari didekatkan), hari ketika tidak ada naungan kecuali naungannya. Sebab, kata Nabi Saw, salah satu dari tujuh manusia yang mendapat naungan Allah pada hari yang demikian itu, adalah dua orang pemuda yang saling mencintai karena Allah ketika hidup di dunia.
Cinta juga menjadi syarat kesempurnaan iman seseorang. “Tidak sempurna iman seseorang,” kata Nabi Saw suatu kali, “sampai aku (Nabi) lebih dicintai olehnya daripada anaknya, ayahnya, dan seluruh manusia” (Muttafaq alaih).
Islam memang mudah (ad-din yusrun). Saking mudahnya, kita hanya diharuskan beramal sesuai kadar kemampuan saja (la tukallafu nafsun illa wus’aha), karena memang tidak ada paksaan dalam beragama (la ikraha fi ad-din). Jika amal yang berat tidak mampu, lakukanlah amal yang ringan saja. Jadi, Islam membolehkan kita untuk bersikap minimalis. Akan tetapi, tahukah Anda, bahwa salah satu wujud dari sikap minimalis itu ternyata adalah cinta? Betapa mudahnya. Hanya dengan cinta, itu sudah merupakan amal yang bisa menyelamatkan kita, di dunia dan (terutama) di akhirat. Buktinya adalah sabda Nabi Saw yang sangat termasyhur ini: “Jadilah engkau mu’alliman (guru, yang mengajar). Jika tidak bisa, jadilah muta’alliman (pencari ilmu, orang yang berguru). Jika tidak bisa, jadilah mustami’an (pendengar, penyimak majelis ilmu). Jika tidak bisa, minimal engkau menjadi muhibban (mencintai guru, mencintai pencari ilmu, mencintai majelis ilmu). Tetapi janganlah engkau menjadi khamisan (yang kelima)”(HR Bukhari Muslim). Apa itu “yang kelima”? Yakni seorang yang sudah tidak bisa menjadi (1) guru, (2) pencari ilmu, (3) penyimak majelis ilmu, juga tidak bisa menjadi (4) pencinta, tetapi sebaliknya, malah menjadi pembenci kaum ulama, pembenci kaum santri, serta pembenci majelis-majelis ilmu. Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi pencinta, bukan menjadi pembenci. Amien. Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s