Belum lama ini nurani kita terusik dengan perbuatan sensasional Syekh Pudji, pimpinan pondok pesantren di Semarang, Jawa Tengah, yang menikahi seorang gadis di bawah umur. Gadis tersebut baru saja kelas satu sekolah menengah pertama, usianya kurang dari 12 tahun. Namanya Lutfiana Ulfa, dan merupakan hasil dari “fit and proper test” atas sekian belas calon istri yang diperuntukkan bagi sang pimpinan ponpes tersebut. Orangtua Ulfa-lah yang mengajukan surat permohonan keluar kepada pihak sekolah, karena akan dikawinkan dengan pimpinan ponpes yang bergelar Syekh itu.

Mengapa kita katakan mengusik nurani? Karena apa yang dilakukan Syekh Pudji tak ubahnya telah mencederai rasa moral kita. Bagaimana seorang yang masih kanak-kanak harus melaksanakan pernikahan, padahal dia masih memerlukan pendidikan, dan mental serta psikologinya masih dalam masa-masa perkembangan? Selain itu, dari sudut pandang kesehatan, bukankah sudah jamak dipahami bahwa perkawinan di bawah umur sangat berisiko dan rawan terjangkit gangguan pada alat reproduksi di kemudian hari (misalnya: risiko terkena penyakit kanker leher rahim)? Perspektif lain, bahwa si bocah Ulfa bisa jadi telah menjadi korban dari “perdagangan anak” (trafiking) dan eksploitasi ekonomi. Asumsi ini cukup kuat jika melihat Syekh Pudji sebagai orang berduit. Sewaktu Ramadhan kemarin, sang Syekh yang nota bene pengusaha kaligrafi dan pemilik toko mobil itu konon mengeluarkan zakat saja sampai milyaran rupiah. Patut diduga, Ulfa diizinkan untuk dinikahi—untuk tidak mengatakan “dijual”—oleh Syekh Pudji demi kepentingan ekonomis jangka panjang yang diidamkan orangtuanya.

Sebagai seorang ulama—ini jika melihat statusnya sebagai pimpinan ponpes, Syekh Pudji tidak memiliki argumen yang “berkelas” dan otoritatif demi menopang pengabsahannya atas perbuatannya (menikahi anak di bawah umur). Alasannya sangat normatif, saklek, dan berputar-putar di situ saja, yakni bahwa Nabi Muhammad Saw saja menikahi Aisyah Ra ketika putri Abu Bakar itu masih berusia 6 tahun. Jadi, menurut Syekh Pudji, apa yang salah dengan pernikahannya dengan Ulfa? Yang menyalahkan dirinya, kata Syekh Pudji, adalah orang-orang yang tidak paham syariat dan hukum agama. Bahkan, menurut Syekh Pudji, lembaga sekaliber MUI pun dianggapnya tidak otoritatif untuk mempersoalkan pernikahan yang dia lakukan. Syekh Puji merasa bahwa dirinya lebih memahami agama dibanding MUI sekali pun. Lembaga Depag pun tak berfungsi apa-apa bagi Syekh Pudji, itulah mengapa pernikahan dilakukan secara sirri pada 8 Agustus 2008, jam.03.03 WIB.

***

Sesungguhnya, ada bermacam pendekatan dalam kita memahami teks agama. Jika kita semata-mata menyimak argumen klise Syekh Pudji, maka itulah yang disebut pendekatan ortodoks. Pendekatan ini sering disebut juga pendekatan tradisional. Cara kerjanya adalah, ketika teks normatif berhadapan vis-à-vis dengan realitas sosial, maka tinggal pindahkan saja teks itu ke realitas, diterapkan secara general tanpa mempertimbangkan kondisi-kondisi khusus. Dalam pandangan ortodoks-tradisional secara umum, teks agama dianggap sebagai sesuatu yang transendens, dan karenanya bersifat absolut-mutlak. Hadis, yang berisi dokumen ucapan dan perilaku Nabi Saw, juga dianggap sebagai transendens. Dalam arti, bahwa ajaran atau nilai yang terkandung di dalam hadis bersifat adikodrati. Perbuatan Nabi Saw tidak didasari oleh hawa nafsu, syahwat pribadi, karena beliau adalah maksum; semua perbuatan Nabi Saw berdasarkan wahyu dan bimbingan Tuhan. Dalihnya, wama yanthiqu ‘an al-hawa, in huwa illa wahyun yuha. Itulah kenapa, Syekh Pudji selalu mendasarkan argumennya pada praktik Nabi Saw. Dengan kata lain, seakan-akan ia hendak mengatakan, wong Nabi Saw saja, yang perilakunya nota bene selalu dalam bimbingan wahyu—dan karenanya menjadi teladan (uswatun hasanah) bagi umatnya, menikahi Aisyah yang sembilan tahun. Apa yang Syekh Puji lakukan, yakni menikahi gadis 12 tahun, dengan demikian, tidak bertentangan dengan norma-norma agama.

Yang bertolak belakang dengan pendekatan ortodoks—ala Syekh Pudji—adalah pendekatan rasional. Jika pendekatan ortodoks diidentifikasi karena sifatnya yang hanya bertumpu pada segi lahir teks agama dan menerapkannya secara mutlak, maka pendekatan rasional sangat mempertimbangkan konteks aktual, sehingga tidak tidak bersikap kaku terhadap teks. Ia coba mengkompromikan bunyi teks dengan realitas aktual, dengan cara menggali ideal moral-universal yang terkandung dalam teks, yang memungkinkannya untuk dijadikan pijakan ataupun  titik tolak bagi praksis aktual yang berbeda-beda dan kondisional. Ideal-moral dalam setiap teks adalah kemaslahatan manusia. Dalam setiap zaman, tuntutan kemaslahatan berbeda satu sama lain. Teks agama, karena lahir dalam kurun waktu tertentu, jelas mengakomodasi tuntutan kemaslahatan pada saat teks tersebut muncul. Ketika zaman berganti, sehingga tuntutan kemaslahatan pun berganti, maka teks tidak bisa serta-merta diterapkan secara “pukul rata”, mutlak, absolut, akan tetapi memungkinkannya untuk menerima terobosan baru dan modifikasi sesuai dengan tuntutan kemaslahatan yang berkembang.

Dalam tradisi intelektual Islam, upaya mencari terobosan baru atau modifikasi pemahaman agama inilah yang jamak disebut ijtihad (penalaran pribadi), yang terang-benderang direkomendasikan oleh Islam sendiri. Bahkan semenjak Nabi Saw masih hidup, praktik ijtihad sudah dioperasikan, yakni pada kasus dakwah Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Waktu itu Nabi Saw bertanya kepada Mu’adz: Bagaimana kamu akan berhukum jika tidak menemukan petunjuk dalam al-Qur’an atau Sunnah? Mu’adz menjawab: Aku akan berijtihad melalui penalaranku sendiri (ajtahidu ra’yi).

Konsep ijtihad ini mengandaikan pemahaman dasar, bahwa kebenaran Islami tidaklah semata-mata bersumber pada wahyu, tetapi juga mengakui sumber lain, hal mana salah satunya—dalam konteks ini—adalah rasio manusia atawa akal budi. Hal ini juga sekaligus hendak menegaskan, bahwa, bukan hanya Tuhan dan Nabi saja, tetapi manusia biasa—dengan perangkat akal budinya—juga diberi ruang untuk berperan dalam mendefinsikan kebenaran agama. Sangat mungkin, bahkan pasti—dalam skala tertentu, bahwa konstruksi pemahaman hasil ijtihad berbeda dengan konstruksi literal-normatif yang tertuang dalam teks suci (al-Qur’an dan Hadis). Tetapi, fenomena itu tidak selayaknya dipahami sebagai tidak “agamis”, karena secara normatif agama sendiri memungkinkan hal tersebut, yakni dengan adanya konsep ijtihad yang diizinkan oleh Nabi Saw sendiri.

Hanya saja, memang kerja ijtihad ini hanya beroperasi pada ajaran-ajaran yang bersifat sosial (muamalat), bukan yang bersifat ritual (ubudiyah). Ajaran-ajaran ritual (ubudiyah) bersifat arbitrer, tidak bisa dipertanyakan. Ia memungkinkan “beroperasi” secara mutlak tanpa membedakan tempat dan waktu, dan karena karakterya yang demikian itu, ajaran-ajaran ubudiyah tidak membuka ruang untuk ijtihad (penalaran). Ajaran-ajaran ubudiyah adalah ajaran-ajaran yang mengatur hubungan (relasi) antara manusia, secara pribadi, dengan Allah Swt, misalnya salat, puasa, haji, dan sejenisnya. Sedangkan ajaran-ajaran muamalat (sosial) adalah yang mengatur relasi antar manusia, antar sesama Muslim, atau antara Muslim dengan non Muslim, dalam rangka mengatur kehidupan profannya di dunia ini untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik. Ajaran-ajaran itu misalnya tentang bagaimana berbisnis, berpolitik, berbudaya, dan termasuk di dalamnya bagaimana hidup berumah tangga (menikah).

Pada titik inilah, jika mungkin disimplifikasikan, pendekatan rasional coba memetakan kepribadian Muhammad Saw secara “ganda” (split), yakni sebagai nabi (rasul Allah) dan sebagai manusia. Dalam kaitannya dengan ajaran-ajaran ritual (ubudiyah), spiritual, dan sejenisnya, Muhammad diasumsikan mengambil posisi sebagai nabi, “pembawa kabar langit”, rasul Allah, utusan Tuhan, seseorang yang menerima wahyu (yuha ilayya), yang berbicara, bertindak, serta berperilaku dalam bimbingan Tuhan sepenuhnya, sehingga segala teladannya dalam hal ini bersifat mutlak absolut. Makanya beliau bersabda: Salatlah kalian sebagaimana kalian lihat aku salat (Shallu kama ra-aitumuni ushalli).

Sedangkan dalam kaitannya dengan ajaran-ajaran muamalat (sosial), hubungan antar manusia, Muhammad diasumsikan mengambil posisi sebagai manusia biasa (basyarun mitslukum), yang dihadapkan pada pergulatan sosial-budaya yang dinamis, sehingga dalam tindakan dan perilakunya tidak semata-mata berdasarkan bimbingan Tuhan (wahyu), namun juga pemikiran dan kecenderungan pribadi Muhammad sendiri yang dipengaruhi oleh tuntutan-tuntutan di sekelilingnya yang kompleks. Sehingga, karena itu, teladannya dalam hal-hal yang bersifat sosial-muamalat tidaklah bersifat mutlak-absolut, tetapi nisbi; sangat mungkin teladan yang beliau praktikkan tidak sejalan dengan tuntutan kemaslahatan dalam kondisi waktu dan zaman yang berbeda. Sehingga, dalam konteks ini, Nabi Saw, yang menyadari “keterbatasan” tersebut, tidak pernah memaksakan kepatuhan (ittiba’) secara mutlak, akan tetapi lebih menyerahkan otoritasnya kepada umat. Dalam hal ini Nabi Saw bersabda: Kalian lebih tahu hal-ihwal persoalan dunia kalian (Antum a’lamu bi-umuri dun-yakum). Tidak pernah ada hadis yang menyatakan, misalnya: Berdaganglah kalian plek sebagaimana kalian lihat aku berdagang, atau, Berpolitiklah kalian sebagaimana kalian lihat aku berpolitik, dan seterusnya.

***

Dalam konteks Arab abad ke-7 M, menikahi gadis yang masih kanak-kanak merupakan hal yang biasa, baik karena didasari motif ekonomi ataupun sosial-politik yang berkembang pada masyarakat tribal waktu itu, yang secara umum bersifat khas. Dengan kata lain, budaya atau tradisi menikahi gadis yang masih kanak-kanak bisa jadi memang (masih) dianggap mengandung nilai maslahat dari sudut pandang tertentu saat itu, sebagaimana halnya hukuman potong tangan, cambuk, rajam, dan sejenisnya masih dianggap efektif pada waktu itu untuk menimbulkan efek jera bagi para kriminal (dalam konteks hokum). Khusus dalam kasus Nabi Saw, misalnya, beliau sesungguhnya menerima Aisyah sebagai istrinya karena Abu Bakar sendiri yang menawarkan. Nabi Saw merasa perkiwuh untuk menolak, karena menyadari bahwa Abu Bakar termasuk generasi assabiqun al-awwalun yang sangat beliau hormati. Seandainya tidak ditawari Abu Bakar, bisa jadi Nabi lebih memilih janda saja, sebagaimana istri-istri beliau yang lain (selain Aisyah).

Yang penting dicatat, bahwa sekarang zaman telah berlalu berabad-abad lamanya. Dahulu kala belum ada kajian dan penelitian serius tentang akibat, efek, dampak, ataupun medis yang mungkin timbul dari praktik pernikahan dini, khususnya pada diri si gadis (kanak-kanak), baik secara kesehatan maupun mental kejiwaan. Selain itu, dahulu jelas belum ada kecenderungan global seperti sekarang yang menghendaki adanya perhatian besar pada persoalan hak atas pendidikan, perkembangan mental, partisipasi bagi anak-anak, serta pentingnya masalah perlindungan anak-anak dari kekerasan, eksploitasi ekonomi, trafiking, dan sejenisnya. Sehingga, tidak ada pikiran yang timbul pada masyarakat waktu itu perihal segi kemafsadatan (negatif, merusak) dari praktik pernikahan dini. Justru sebaliknya, yang dilihat adalah efek atau dampak kemaslahatannya secara sosio-kultural, politik dalam komunitas tribal waktu itu.

 Sekarang, ketika dunia kontemporer memberitahu kita tentang betapa berisikonya bagi gadis (kanak-kanak) yang melakukan pernikahan dini—utamanya secara kesehatan dan mental-kejiwaan, serta betapa banyak hak-hak dasariah miliknya yang diambil secara paksa (hak atas pendidikan, partisipasi, perlindungan), maka sesungguhnya dalam kacamata kekinian yang berdasar pada asas progresivitas (kemajuan), praktik pernikahan dini tidak layak ditolerir lagi, karena lebih banyak menimbulkan madarat daripada kemaslahatan, sehingga secara ijtihadiah bahkan memungkinkan untuk mengkategorikan pelakunya sebagai pendosa (karena telah melakukan pedofili).

Walhasil, sekarang semuanya terserah Anda, apakah akan mengembangkan cara berpikir dengan pendekatan ortodoks, ataukah pendekatan rasional? Sebab, memahami teks-teks agama sesungguhnya bukan berkaitan dengan soal salah atau benar. Sifat benar atau salah sesungguhnya adalah relatif belaka, karena semuanya bergantung pada pendekatan apa yang menjadi pijakannya. Hanya, satu hal yang penting dan mendasar, sebuah pemahaman agama akan lebih banyak dilihat sejauh mana dampak dan fungsinya bagi kemaslahatan manusia. Sebuah pemahaman, meski diatribusikan pada teks suci atau petunjuk normatif yang absah sekalipun, tetapi dalam implementasinya tidak bisa memberi kontribusi bagi terwujudnya peradaban yang lebih baik, justru sebaliknya: kontras terhadap ideal kemaslahatan manusia, maka itu sesungguhnya sama halnya “penjungkirbalikan” makna Islam itu sendiri sebagai agama. Sebab, Islam adalah agama universal, yang tujuan syariatnya adalah mewujudkan kemaslahatan bagi manusia kapan dan di mana pun, tidak hanya kemaslahatan bagi bangsa Arab di abad ke 7 saja. Wallahu a’lam.[]

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s