Dalam salah satu episode sinetron religius besutan sutradara Dedy Mizwar yang ditayangkan sebuah televisi swasta pada musim Ramadhan 1428 H silam, Para Pencari Tuhan (PPT), kita mendapati sebuah dialog yang menarik. Adalah Udin, si hansip miskin, sembari menyerahkan titipan bantuan modal kepada Asrul, bergaya memberi penyuluhan kepada sahabatnya yang beranak banyak itu (sudah empat dan menjelang lima), bahwa harusnya ia ikut program KB (Keluarga Berencana), agar hidupnya tidak susah karena menanggung nafkah banyak anak. Istri Asrul yang malah menjawab, bahwa tidak jaminan juga kalau anak menjadikan keluarga tidak sejahtera. Buktinya, banyak orangtua yang beranak banyak, tetapi mereka bisa mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Si hansip Udin akhirnya menjawab seasalnya saja, bahwa mungkin orang tersebut banyak ikhtiarnya. Jadi, mustinya orang yang hendak beranak banyak, ikhtiarnya juga banyak.
Dialog tersebut, meski hanya dalam sinetron, sesungguhnyalah menggambarkan logika pandang masyarakat kita pada umumnya terhadap program KB. Orang beranggapan bahwa membatasi kelahiran bukanlah perkara yang signifikan, karena pada kenyataannya sedikit anak tidak pasti menjamin kesejahteraan, dan sebaliknya, banyak anak juga tidak mutlak menyebabkan rendahnya tingkat kesejahteraan. Cara pandang seperti ini akan semakin parah jika didukung pula oleh pemahaman teologis (agama) bahwa “rezeki di tangan Tuhan,” sehingga orang tidak perlu khawatir dan takut jika harus beranak banyak, karena Tuhan toh sudah menjamin rezeki setiap hamba-Nya.
Jika boleh kita membuat kategorisasi, pandangan bahwa “rezeki bergantung pada Tuhan” dianut oleh mereka yang menganut “mazhab keyakinan” atau tepatnya “mazhab iman”. Mazhab ini sangatlah kentara dalam, dan identik dengan, teologi dan agama. Makanya, orang dengan keberagamaan yang kuat cenderung menolak program KB (baca: pembatasan kelahiran), terutama jika alasan yang dikedepankan adalah ekonomi (baca: takut tidak bisa menafkahi). Baginya, takut punya anak banyak karena khawatir tidak bisa menafkahi adalah sebentuk pengingkaran pada kekuasaan Tuhan untuk mencukupi kebutuhan seluruh makhluk-Nya. Jangankan manusia, bahkan seekor semut pun dijamin rezekinya oleh Tuhan, begitulah argumen yang diajukan. Apalagi jika seseorang itu dekat dengan Tuhan, sudah pasti jaminan rezekinya akan ditanggung oleh-Nya. Sebab, di dalam kitab suci disebutkan, “Siapa yang bertakwa kepada Tuhan, maka Dia akan memberi jalan keluar bagi setiap masalah hidupnya, dan memberinya rizki dari arah yang tak terduga” (man yattaqi Allah, yaj’al-lahu makhrajan, wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib). Jadi, buat apa ikut KB? Mau anak sedikit, mau banyak, toh Tuhan akan menjamin rezeki semua makhluk-Nya di dunia ini.
Sedangkan cara pandang hansip Udin dan istri Asrul dalam sinetron PPT di atas adalah manifesto dari para penganut “mazhab ikhtiar”. Mazhab ini berpijak pada logika bahwa “semua tergantung manusianya”. Mau anak banyak (tidak ikut KB), jika ikhtiarnya kenceng, ya tidak ada masalah: semua anak akan relatif terjamin kesejahteraannya baik lahir maupun batin. Sebaliknya, meski anak sedikit (ikut KB), tetapi ikhtiarnya mlempem dan loyo, ya pada gilirannya kesejahteraan keluarga terabaikan; dengan kata lain, tidak jauh beda dengan problem mereka yang beranak banyak. Dan, sebagai “anti-tesis” terhadap “mazhab keyakinan” di atas, para penganut mazhab ini berpandangan bahwa kehendak dan kekuasaan Tuhan sangat dipengaruhi oleh faktor ikhtiar manusia sendiri. Mau takwa atau tidak, jika seseorang bersungguh-sungguh dalam berusaha, maka ia akan sukses besar, atau dengan kata lain: rezeki Tuhan akan banyak terberikan buat dia, karena usahanya yang kuat. Sebaliknya, jika tidak sungguh-sungguh dalam berusaha, ya sukses yang diraihnya kecil, atau dengan kata lain: rezeki Tuhan hanya turun sedikit saja. Ini artinya, mau anak banyak (tidak ikut KB) atau sedikit (ikut KB), jika tidak dibarengi dengan ikhtiar yang banyak pula, maka dampaknya bisa dibayangkan: anak-anak berpotensi terlantarkan. Ini dengan kata lain Tuhan tidak menjamin sepenuhnya rezeki makhluk-Nya, jika makhluk tidak proaktif. Uniknya, cara pandang seperti ini sendiri konon didukung pula oleh dalil normatif dari kitab suci, yakni: “Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri” (Inna Allah la yughayyiru ma bi-qaumin hatta yughayyiru ma bi-anfusihim).
Kritik terhadap mazhab pertama itu adalah, barangkali, jika memang benar Tuhan diyakini secara mutlak menjamin rezeki saban hamba-Nya, mengapa kemiskinan sedemikian kentara mendera begitu banyak keluarga di sekeliling kita? Di beberapa daerah, gizi buruk dan kelaparan merajalela di banyak keluarga, bahkan sampai merenggut nyawa begitu banyak orang (terutama anak-anak). Di perempatan-perempatan jalan besar, anak-anak jalanan, pengemis, gelandangan, makin hari bukannya berkurang, tetapi malah bertambah, yang menandakan bahwa kelompok yang tidak beruntung secara ekonomi makin banyak. Lantas, mana bukti riilnya bahwa Tuhan menjamin rezeki setiap hamba-Nya? Dan umumnya, keluarga-keluarga miskin akan melahirkan generasi yang miskin juga, sehingga kemiskinan pun menjadi absolut dalam sebuah keluarga. Dus, logikanya, jika sebuah keluarga miskin beranak-pinak banyak (tidak ikut program KB), maka akan semakin banyaklah manusia miskin yang terlahir.
Merespon kenyataan seperti itu, tentu saja para penganut “mazhab ikhtiar” akan langsung berujar: “Salah manusianya sendiri!” Jika si miskin itu berusaha dan berjuang sekuat tenaga, semaksimal mungkin—untuk mengubah nasib, tentu hidupnya akan berubah (menjadi kaya). Si miskin tetap miskin, dan terus memproduksi generasi miskin, karena dia tidak pernah berusaha untuk keluar dari kubangan kemiskinannya. Sama saja, baik si miskin itu anaknya sedikit (ikut KB) atau (baca: apalagi) banyak (tidak ikut KB), jika usahanya sedikit, kemiskinan itu akan tetap hinggap padanya; sebaliknya, jika usahanya banyak, kemiskinan yang mencengkeramnya akan lenyap.
Namun demikian, dan inilah kritik terhadap cara pandang hansip Udin dan istri Asrul—yang dispiriti oleh “mazhab ikhtiar” itu, mengapa pada kenyataanya meski sudah sedemikian maksimal dalam berusaha, sebuah keluarga tetap tidak bisa keluar dari kubangan kemiskinan? Seorang kepala keluarga mungkin sudah menempuh pendidikan tinggi, punya pengalaman banyak, mengubah pola pikir, membangun etos, dst, tetapi kesuksesan tetap tidak berpihak padanya. Derajat perekonomiannya tetap rendah, menengah ke bawah, bahkan sangat mungkin jatuh di bawah garis kemiskinan.
Dalam kondisi seperti ini, tentu saja ikut program KB bisa menjadi salah satu solusi. Sebab, dengan perencanaan atau pembatasan kelahiran dalam sebuah keluarga, seseorang bisa berspekulasi, setidaknya living cost juga bisa diatur, ditekan, secara proporsional dan terukur, sedemikian hingga menyesuaikan dengan pendapatan yang dimiliki. Memang benar, seperti jawaban istri Asrul, tidak ada kepastian juga bahwa banyak anak akan menurunkan derajat kesejahteraan, karena pada kenyataannya tidak sedikit orang yang tetap sukses meski beranak-pinak banyak. Namun, kata-kata “tidak ada kepastian” itu sendiri juga merupakan spekulasi. Nah, jika sama-sama berspekulasi, manakah di antara keduanya yang memiliki tingkat realistik lebih tinggi? Tentu saja orang yang beranak sedikit (ikut KB), karena ia mengacu pada logika “keterukuran”—bahwa pengeluaran (living cost) menyesuaikan pendapatan. Sebaliknya, orang yang beranak banyak (tidak ikut KB) lebih mengandalkan faktor “keberuntungan” dan probabilitas kasuistik.
Selain itu, hal yang patut direnungkan, bahwa ketika seseorang, dalam konteks sekarang, mencanangkan suatu perubahan (katakanlah, dalam konteks ini: perubahan menuju kesejahteraan keluarga), tetapi dia hanya berkutat pada logika “individu (orang per orang) sebagai pusat”, jelas sesuatu yang sama sekali naif. Mengapa? Karena manusia, individu-individu, dalam konteks sekarang tidak lagi menjadi determinan utama dalam sebuah proses perubahan. Manusia terbatasi oleh sistem, yang dalam hal ini direpresentasikan oleh lembaga negara. Negaralah yang kini menjadi penentu terjadi tidaknya perubahan yang diinginkan oleh individu, orang per orang. Mau sekuat dan seinovatif apa pun seseorang bergerak, tetapi jika negara sebagai sistemnya tidak “berpihak” padanya, maka perubahan yang diharapkan akan sulit terjadi. Persisnya, meskipun saban orang di negeri ini memimpikan kesejahteraan, yang untuk itu setiap pribadi menempuh upayanya masing-masing, sekuat tenaga, sesuai kemampuan yang dimiliki, akan tetapi di sisi lain sistem kita, yakni negara kita ini, ringkih, maka kesejahteraan itu tak lebih sekadar mimpi.
Dalam kaitannya dengan isu KB, keringkihan negara bukan disebabkan oleh tiadanya kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan, akan tetapi lebih dikaitkan dengan masalah kependudukan. Artinya, pangkal persoalannya adalah pertumbuhan penduduk (populasi) yang tidak sebanding dengan kemampuan negara. Data terakhir menunjukkan, bahwa di Indonesia terjadi lima juta kelahiran setiap tahunnya. Sebuah populasi yang terlalu cepat, bahkan relatif tidak terkendali, dan tentu ini akan membuat negara kelebihan beban, sehingga tidak mustahil negara akan ringkih. Tentu saja negara menghendaki seluruh warganya sejahtera, lahir dan batin, tercukupi kebutuhan pangan, pendidikan yang layak, jaminan kesehatan, pekerjaan, dan seterusnya. Akan tetapi, mungkinkah itu semua akan terwujud, jika tidak diimbangi dengan pengendalian angka kelahiran? Bayangkan jika populasi tidak terkontrol, betapa berat beban yang dipikul negara untuk warganya, dari mulai anggaran pendidikan, jaminan kesehatan, lapangan pekerjaan, dan seterusnya.
Oleh karena itu, jika direnungkan secara mendalam, program KB sesungguhnya adalah suatu “strategi budaya” bagaimana kita hendak membenahi dan memperkuat ketahanan sistemik negara kita. Sebab, dengan kelahiran yang terkendali, populasi yang terkontrol, program-program serta kebijakan-kebijakan negara yang berorientasi pada kesejahteraan warganya diharapkan akan lebih terukur dan realistik. Penolakan terhadap program KB sesungguhnya sama saja merupakan gerakan sistemik yang, cepat atau lambat, disadari atau tidak disadari, akan mengantarkan negara pada kubangan kesulitan sosial di segala bidangnya: lemahnya ketahanan pangan, rendahnya derajat pendidikan, rendahnya tingkat perekonomian, membengkaknya angkatan kerja (pengangguran), buruknya tingkat kesehatan, dan seterusnya. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s