imageSyirik terbagi dua: syirik akidah dan syirik sosial. Disebut syirik akidah ketika manusia meyakini ada kekuatan selain Allah, baik itu pada sosok material (patung, berhala) ataupun imateriil (arwah leluhur, setan).

Adapun syirik sosial adalah sebutan untuk varian sikap loyal yang berlebihan pada –untuk menyebut beberapa– status sosial, nasab, juga harta-benda.

Terhadap syirik sosial, Islam sangat menentang. Dalam perspektif tauhid, kemuliaan tertinggi hanyalah milik Allah. Semua manusia sama di hadapan-Nya, yakni sebagai hamba. Kualitas manusia hanya dilihat dari takwanya (QS 49: 13).

Dalam perspektif tauhid, semua kaum mukmin adalah bersaudara (QS 49: 10), satu dalam iman dan akidah Islam, sama-sama hamba Allah, sehingga tidak sepatutnya ada pengkotak-kotakan berdasar silsilah ataupun keturunan.

Dalam perspektif tauhid pula, segala sesuatu, termasuk kekayaan, adalah milik Allah, dan orang-orang kaya mesti menyisihkan sebagian harta-bendanya untuk kaum miskin (dhuafa). Sabda Nabi SAW, ”Allah berkata, harta-benda adalah milik-Ku, dan orang-orang kaya adalah wakil-wakil-Ku (di bumi).”

Untuk sekarang, hampir bisa dipastikan, kita sulit menjumpai perilaku-perilaku syirik akidah. Seiring laju modernisasi, amat jarang orang yang masih percaya ada kekuatan di balik benda-benda ataupun kekuatan gaib metafisik.

Namun, fenomena syirik sosial justru begitu menggejala. Manusia kini sangat terobsesi, misalnya, dengan pangkat dan jabatan. Ketika keduanya didapat, ia akan mencintai dan sebisa mungkin mempertahankannya sehidup semati, dengan jalan apa pun. Juga tidak peduli hukum Allah. Karena, loyalitas bukan lagi kepada Tuhan, tetapi pada pangkat dan jabatan itu sendiri.

Manusia sekarang juga sangat mengagungkan komunalisme. Mereka terbagi dalam ikatan kedaerahan, etnografi, kesukuan tertentu. Masing-masing fanatik dengan ikatannya sendiri-sendiri, merasa paling hebat dan terbaik, dan akhirnya resisten terhadap eksistensi komunitas lain.

Sedemikian loyal terhadap ikatan tersebut, sehingga mereka pun tak segan-segan bertindak anarkis untuk mempertahankan identitas ikatannya, tanpa peduli aturan Allah. Sikap loyal mereka bukan lagi kepada (ajaran) Tuhan, tetapi pada kelompoknya.

Manusia sekarang juga pengagung harta. Mereka sudi berbuat apa saja untuk mendapatkan dan mempertahankannya. Sebab, dalam pikiran mereka, harta adalah segala-galanya, yang akan membawa kesenangan duniawi tiada tara.

Dari pengagungan yang berlebihan, lahirlah cinta. Kalau sudah cinta, segala aturan apa pun yang mengharuskannya bersikap dermawan dan sosial, tidak akan pernah digubrisnya. Allah, misalnya, mengharuskan dia berzakat, berinfak, dan bersedekah, untuk menyucikan hartanya. Namun, karena loyalitasnya kepada harta lebih besar dibanding kepada Allah, ia enggan melakukan itu semua. Wallahu a’lam. (RioL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s