sedang tamasya

Kuasa Tuhan

Jauh-jauh hari sudah banyak orang yang memprediksi, bahwa seusai momentum Pileg (pemilihan calon anggota legislatif), akan banyak orang yang terjangkit stres atau depresi. Kini ramalan ‘ilmiah’ itu terwujud nyata di sekitar kita. Banyak mantan calon legislator, baik dari tingkat atas (pusat) maupun bawah (daerah) yang diketahui menderita gangguan jiwa setelah mengetahui mereka gagal dalam Pileg kali ini; suara mereka jeblok dan rendah, sehingga tak memenuhi syarat untuk menjadi anggota dewan yang terhormat.

Mengapa mereka sampai stres atau depresi? Secara psikologis jelas, bahwa sebabnya karena mereka telah kehilangan sesuatu. Apa itu? Bisa berupa kesempatan. Mereka telah kehilangan sesuatu yang begitu diidam-idamkan banyak orang, yakni kesempatan untuk menjadi manusia yang (ingin) terhormat, sebagai anggota legislatif. Mereka telah kehilangan kesempatan satu-satunya untuk bisa masuk ke tempat yang oleh banyak kalangan disebut sebagai tempat paling “panas”, tetapi juga paling “basah”. Panas kok ya juga basah. Tempat yang aneh bukan? Tentu menjadi “kebanggaan” tersendiri bisa masuk ke dalam tempat aneh seperti itu. Atau, barangkali justru keanehannya itulah yang menjadi daya betot tersendiri, sehingga sedemikian banyak yang mengidamkannya.

Selain kesempatan, yang lebih jelas dan kentara, bahwa mereka telah kehilangan materi atau harta benda yang begitu banyak. Entah berapa ratus juta yang telah mereka keluarkan untuk membiayai kampanye bagi promosi diri mereka ke hadapan publik. Ada yang menjual rumahnya, seluruh kendaraannya, bahkan harta warisannya, demi membiayai kampanye: membuat alat peraga, membagi-bagikan cinderamata, uang saku atau uang transport kegiatan rapat umum, dan juga—diakui atau tidak diakui—bagi-bagi duit (money politics). Maka, jangan heran, banyak di antara mereka yang kini jatuh miskin dan melarat, tidak punya apa-apa lagi.

Kondisi perubahan drastis seratus delapan puluh derajat itu seakan-akan menunjukkan kepada kita bukti, betapa Tuhan Mahakuasa, sehingga Dia dapat “seenak perut” mengubah nasib setiap orang secara radikal dan revolusioner. Manusia boleh dan sah saja berusaha mati-matian, sampai harus berkorban habis-habisan, untuk mendapatkan secuil kekuasaan (pangkat dan jabatan), tetapi tetap saja destinasi akhir berada di tangan Tuhan, Zat yang Mahatahu dan Mahabijak menyangkut siapa yang menurut-Nya cocok “ketiban sampur”—terlepas apa pun pertimbangan-Nya, karena itu hak prerogatif-Nya. Al-Qur’an, dalam surat Ali Imran: 26, mengajarkan bahwa Allah-lah sebagai pemilik kekuasaan (malik al-mulk), sehingga Dia berwenang memberikannya kepada, atau mencabutnya dari, siapa pun. Dia berwenang memuliakan seseorang dengan kekuasaan (menganugerahinya), atau menghinakan seseorang juga dengan kekuasaan (mencabutnya)… Seharusnyalah para caleg yang gagal itu sadar, bahwa kegagalan mereka, atau pun kesuksesan orang lain sebagai caleg, bukan semata-mata faktor upaya dan usaha (kasab) manusiawi yang “jeblok” atau sebaliknya: efektif, tetapi jauh lebih mendasar lagi, bahwa the destiny is out of our control, karena ini berkaitan dengan kuasa Tuhan.

Sedikitnya Hamba yang Bersyukur

Pelajaran lain yang bisa kita jumput, ternyata kebanyakan orang yang ‘berpunya’ itu sedikit sekali rasa bersyukurnya pada Tuhan. Sudah punya harta berlimpah, tetapi masih ingin tambah, bermimpi ingin jadi anggota dewan yang terhormat yang konon ‘penghasilan’-nya banyak, entah dari segi gajinya, atau yang ‘lain’. Harta berlimpah bukannya disyukuri dengan banyak ibadah dan sedekah, tetapi malah (masih) ditunggangi sikap serakah ingin mendapatkan yang lebih.

Agama mengajarkan, dalam harta berlimpah yang kita miliki ada hak bagi mereka yang tak berpunya dan miskin. Kita harus menyisihkan sedikit dari harta kita untuk mereka (fakir, miskin, ibnu sabil, yang banyak hutang, dst), dengan tulus dan ikhlas, karena pada dasarnya kita “mengembalikan” apa yang menjadi hak mereka (rakyat). Memang benar, bahwa para caleg (yang gagal) itu “bersedekah” dan “mengembalikan”, tetapi sayangnya bukan didasari keikhlasan, melainkan diembel-embeli syarat dan dan ketentuan, yakni harus mendukung mereka memuluskan jalan menjadi caleg. Sehingga, “sedekah” mereka sesungguhnya bukan wujud kebersyukuran, akan tetapi sebaliknya: kekufuran. Makna dasar kufur adalah ingkar, alias kemungkaran, yang dalam bahasa sosial bisa berarti crime atau kejahatan. Tentu saja kejahatan mencakup banyak sekali hal, akan tetapi jelas yang namanya “membeli suara”, money politics, masuk di dalamnya. Secara lahir memang aneka macam pemberian para caleg itu bisa disebut sedekah, karena bersifat cuma-cuma, tetapi substansinya adalah suap, karena ada “syarat dan ketentuan berlaku”, yakni harus memberikan suara bagi sang pemberi nanti di bilik suara.

Al-Qur’an menyatakan, dalam surat Ibrahim: 7, bahwa mereka yang bersyukur atas nikmat yang diterima, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya, sedangkan mereka yang kufur nikmat, Allah akan menimpakan azab yang sangat pedih. Bukan berburuk sangka, bisa jadi fenomena mantan caleg yang depresi, stres, bahkan meninggal (ironisnya ada yang karena bunuh diri), adalah salah satu bentuk dari azab Allah yang dimaksud, karena keberlimpahan materi yang mereka (para mantan caleg) dapat tidak dibarengi dengan sikap syukur, tetapi justru sikap kufur. Na’udzu billah.

Sikap Qana’ah

Agama mengajari kita untuk bersikap qana’ah dalam menjalani hidup ini. Apa itu qana’ah? Secara terminologis, qana’ah berarti menerima dan menjalani hidup ini sesuai dengan kadar (ukuran) yang digariskan Tuhan kepada kita. Dengan kata lain, dengan sikap qana’ah ini, maka kita musti menghidupi hidup ini (living a life) sejauh yang secara wajar menjadi kebutuhan kita, bukan yang secara bebas (mutlak) menjadi keinginan kita. Itulah kenapa, secara kebahasaan, qana’ah sebagai kebalikan dari thama’, yang berarti serakah alias tamak, alias ingin meraih lebih banyak lagi dari sekadar yang sudah dimiliki.

Orang yang berorientasi kepada keinginan, bukan kepada kebutuhan, sesungguhnya mengindikasikan bahwa dia telah meninggalkan sikap qana’ah dan lebih menuruti hawa nafsu. Kata hawa sendiri berasal dari bahasa Arab, yang berarti keinginan. Menuruti hawa nafsu jelas bukan sikap terpuji, apalagi jika sampai menjadi budak nafsu, sehingga sampai-sampai sudi berbuat dan berkorban apa pun, entah itu harta benda, harga diri, bahkan jiwa raga, demi memuluskan segala yang menjadi keinginan (hawa). Padahal, jika segala nafsu kita turuti, jelas tidak akan terpuaskan. Menuruti nafsu atau keinginan duniawi ibarat meminum air laut, semakin diminum maka kita akan semakin haus. Satu-satunya yang bisa memupuskan dan sekaligus menghentikan segala yang menjadi keinginan nafsu adalah kematian. Seperti disitir dalam QS Al-Takatsur ayat 1-2, bahwa segala tingkah-polah “bermegah-megahan” pada akhirnya berhenti ketika seseorang itu mati, masuk kubur. Nabi Saw mengatakan, orang baru benar-benar berhenti mengejar keinginannya ketika hidungnya kemasukan tanah (mati). Sebab, seperti ungkapan Imam Ali kwa: “Kekayaan jiwa itu sudahlah cukup bagi seseorang, jika tidak (artinya: lebih menuruti keinginan nafsu), maka ketahuilah bahwa meski seluruh isi bumi sudah terengkuh, itu tidak akan cukup” (wa ghina al-nufusi hiya al-kifafu fa-in abat fa jami’u ma fil-ardli la yakfiha).

Kekayaan Jiwa

Benar bahwa dunia ini adalah karunia Ilahi, yang musti kita raih, resapi, dan nikmati. Cinta dunia itu wajar, karena hal itu memang hiasan hidup manusia. Al-Qur’an sendiri, dalam surat Ali Imran: 14, menyatakan: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, tetapi di sisi Allah-lah ada tempat kembali yang baik (surga).”

Yang dilarang adalah berlebih-lebihan dalam cinta dunia, yakni yang disebut gila dunia. Ketika seseorang sudah gila dunia, artinya sudah tergila-gila dengan dunia, dengan kata lain menjadi budak dunia. Ungkapan lain dari budak dunia ini tentu aja adalah apa yang tadi disebut budak nafsu—karena dunia memang identik dengan nafsu, yakni ketika seseorang tidak sudi berhenti pada apa yang menjadi kebutuhan dasariah nan wajarnya, tetapi lebih menuruti apa pun yang menjadi keinginan (hawa nafsu)-nya.

Sebaliknya, agama (Islam) menganjurkan kita untuk lebih intensif dalam memupuk kekayaan jiwa (ghina al-nufus). Dalam QS Ali Imran di atas sempat disinggung secara implisit pada akhir ayat, bahwa dari sekian macam kesenangan duniawi itu, betapa pun ada yang jauh lebih baik, yakni surga Allah. Dalam ayat lanjutannya, Ali Imran: 15, disebutkan bahwa surga itu disediakan bagi mereka yang bertakwa. Inilah yang dimaksud kekayaan jiwa itu, yang tak lain adalah perasaan iman dan takwa di dalam hati, yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari melalui amal ibadah, baik berupa pikiran, perkataan, dan tingkah laku fisik (lahiriah). Orang yang kaya hati, kaya jiwa, hanya mengambil dunia sekadarnya, sejauh yang dibutuhkannya; ia cinta dunia, tetapi tidak gila dunia, sehingga tak sudi memperbudak diri di hadapan nafsu. Orang-orang seperti inilah yang terpuji dan beruntung. “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya” (QS al-Nazi’at: 40-41).

Khatimah

Suatu hari Mullah Nasruddin mampir ke masjid, karena ia mendengar seruan untuk salat (azan). Ia pun menambatkan kudanya di halaman masjid, lalu bergegas wudhu dan masuk ke masjid untuk salat berjamaah. Tetapi, malang tak dapat diraih untung tak dapat ditolak, ketika sang sufi dari Arsekhir itu keluar dari masjid seusai salat jamaah, ia mendapati keledainya sudah tidak ada. Awalnya ia menggerutu dan sedih, tetapi kemudian tersenyum. Tentu saja orang-orang bertanya, “Mullah, Anda kehilangan keledai tunggangan Anda. Tetapi Anda malah tersenyum. Bagaimana tho?” Apa jawab Nashruddin? “Ya, tadinya aku pikir betapa sialnya aku hari ini,” katanya, “Tetapi setelah kurenungkan lagi, sepertinya tak perlu aku sesali. Biarlah keledaiku hilang, yang penting aku tidak kehilangan diri-ku.”

Dalam wacana tasawuf, diri berarti kesadaran, dan dalam maqam yang lebih tinggi lagi, ia bisa bermakna kesadaran-akan-Tuhan, God-realized, atau yang lazim kita sebut makrifat (ma’rifah). Nasruddin mengajarkan kepada kita, bahwa kesadaran, dan lebih mendasar lagi kekayaan jiwa berupa iman dan takwa, adalah jauh lebih utama dan lebih berharga dibanding banda, bandu, sentana, status sosial, atau apa pun lainnya dari kesenangan dan keindahan duniawi.

Nasruddin seperti hendak mewejangi para mantan caleg yang gagal masuk gedung dewan dan sudah telanjur mengeluarkan uang banyak itu, bahwa yang sudah hilang biarlah hilang, yang penting minimal Anda masih mempunyai diri Anda sendiri, Anda masih memiliki kesadaran bahwa diri Anda itulah harta yang utama. Inayat Khan, sufi dari India, mengatakan bahwa pada akhirnya semua milik kita itu: harta benda, jabatan, gelar, bahkan anak istri kita, akan hilang dari hadapan kita, sehingga yang tersisa tinggal diri kita sendiri.

Syukur-syukur, Anda malah bisa sampai pada taraf kesadaran, bahwa meski harta benda hilang tak berbekas sekalipun, akan tetapi saya masih memiliki harta yang paling utama, kekayaan yang paling utama, yakni kaya hati, kaya iman. Amien ya rabbal-‘alamin. Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s