Khalid Abu al-Fadel, pakar dan praktisi hukum Islam internasional pernah berkata, bahwa Tuhan itu Mahakuasa, sehingga Dia sangat tahu dan punya cara sendiri bagaimana melindungi, mengamankan, membela kepentingan-kepentingan-Nya. Sehingga, demikian Khalid, Tuhan tak perlu dibela. Yang perlu dibela adalah manusia dan kemanusiaan, karena manusia itu lemah (dan bisa dilemahkan), karena kemanusiaan itu rawan akan ancaman-ancaman.

 

Fenomena yang kita saksikan baru-baru ini, yakni tragedi Pandeglang dan Temanggung, mengisyaratkan betapa pendekatan “membela manusia dan kemanusiaan” dikalahkan secara mengenaskan oleh pendekatan “membela Tuhan”. Dengan dalih membela “kepentingan Tuhan”, yakni menjaga doktrin-doktrin suci agama yang—konon katanya—telah dilecehkan oleh kelompok tertentu, sekelompok orang dengan sangat fulgarnya melakukan aksi-aksi anarkis-destruktif: melukai dan menganiaya, merusak tempat ibadah, bahkan membunuh saudara sendiri sesama anak bangsa. Pertanyaannya, siapakah yang dapat menjamin bahwa Tuhan merasa dibela “kepentingan”-Nya dalam kasus seperti itu? Jangan-jangan Tuhan tidak pernah merasa dibela. Bisa saja, yang terjadi Tuhan justru merasa dilecehkan, karena ekspresi dari cara-cara membela-Nya itu—jika memang benar—justru mengabaikan nilai-nilai ketuhanan. Tuhan itu Pengasih dan Penyayang, Rahman dan Rahim. Dalam khasanah al-Asma al-Husna, Allah juga punya sifat al-Salam, yang berarti Zat Pemberi Kedamaian. Nabi Saw dalam sebuah hadis sahih bersabda, “Berakhlaklah kalian dengan akhlak-akhlak Allah (teks: Takhallaqu bi-akhlaqil-Lah…), maksudnya bahwa dalam ucap, pikir, dan tindak, seorang Muslim musti mendekati sifat-sifat Tuhan. Nah, bagaimana mungkin seseorang merasa dirinya membela (kepentingan) Tuhan ketika cara dia bertindak dan bertingkah laku justru berseberangan dengan sifat-sifat Tuhan?

 

Dalam banyak ayat suci al-Qur’an, Allah memproklamirkan diri sebagai Tuhan yang Esa, kemudian menyeru manusia untuk beriman dan menyembah-Nya. Siapa yang beriman dijanjikan surga, adapun yang kafir diancam neraka. Tetapi, menariknya, Allah tidak pernah “main paksa” dengan seruan-Nya itu. Sebab, memang tidak ada paksaan dalam beragama (QS al-Baqarah: La ikraha fid-din). Siapa yang mau, berimanlah, siapa yang memilih kafir, ingkar, silahkan saja (teks: Faman sya’a fal-yu’min waman sya’a fal-yakfur). Makanya, dalam sejarah nabi-nabi penyampai risalah, umat sasarannya selalu terbagi menjadi dua faksi: yang beriman dan yang menentang, ingkar (QS al-Nisa’: famin-hum man amana bihi, wamin-hum man shadda ‘anhu). Tetapi, bagi Allah, hal itu tidak masalah. Andaikan semua manusia beriman dan menyembah-Nya, hal itu tidak akan menambah keagungan-Nya. Sebaliknya, andai semua manusia kafir dan ingkar pada-Nya, hal itu tidak akan mengurangi keagungan-Nya. Demikianlah, dalam konteks kepentingan-Nya, Allah memberi manusia dua opsi di mana siapa pun bebas memilihnya: mau beriman atau kafir, mau menyembah atau ingkar, terserah.

 

Di sisi lain, menyangkut kepentingan manusia, Allah telah memberi kita satu prinsip dasar, bahwa manusia itu makhluk yang mulia. Allah berkata: Dan sungguh Kami telah memuliakan anak Adam (QS al-Isra’: 70: Walaqad karramna Bani Adam). Karena kemuliaannya itu, maka Allah mengamanatkan bumi ini kepada manusia (menjadi khalifah, QS 2:30), dan menurunkan agama, yang tidak lain tujuannya (maqashid) demi mewujudkan kemaslahatan manusia (QS al-Anbiya’: Wama arsalnaka illa rahmatan lil-‘alamin).  Karena kemuliaannya itu, maka kita harus memperlakukan manusia dengan cara-cara yang mulia pula. Setiap manusia paling tidak memiliki lima hak dasar (al-kulliyyat al-khamsah) yang secara mutlak wajib dijaga dan dilindungi oleh siapa pun kita, dan terutama institusi negara, yakni—sebagaimana diintrodusir oleh Imam Ghazali: properti/harta benda (hifz al-mal), reproduksi (hifz al-nasab), kebebasan berpikir (hifz al-‘aql), beragama dan berkeyakinan (hifz al-din), dan kehormatan (hifz al-‘aradl). Siapa pun, baik secara pribadi atau kelompok, atau institusi negara, yang mengganggu manusia menyangkut lima hak dasar di atas, baik sebagian atau seluruhnya, berarti telah mencederai kemanusiaan, yang dengan kata lain telah melecehkan kemuliaan manusia seperti telah digariskan oleh Allah itu. Dalam ayat di atas, Allah menggunakan istilah Bani Adam, yang artinya berlaku umum, tanpa embel-embel etnik, ideologi, suku bangsa, dst, apalagi klasifikasi mayoritas dan minoritas, Muslim dan non-Muslim, pribumi dan keturunan, dll.

 

Terkait kasus Pandeglang, sebagai Muslim, secara pribadi saya tidak sepakat dengan akidah Ahmadiyah, terutama aliran Qadiyan yang mengakui Ghulam Ahmad sebagai nabi (aliran Lahore hanya memposisikannya sebagai mujaddid, pembaru). Ihwal kasus Temanggung, sebagai Muslim saya juga marah kapada oknum agama tertentu (belakangan diklarifikasi dia bukan tokoh agama) yang membuat dan menyebarkan buku profokativ, yang menyatakan  bahwa Hajar Aswad seperti vagina dan bangunan (batu) jamarat di Mekkah (yang disimbolkan sebagai setan itu) layaknya penis. Tetapi, saya lebih tidak sepakat, lebih marah, dengan sekelompok Muslim yang bertindak anarkis dengan mengatsnamakan agama, berdalih “membela Allah”, sembari memekikkan takbir menyerang, merusak fasilitas umum/tempat ibadah, menganiaya, melukai, dan bahkan membunuh manusia lain tanpa rasa bersalah.

Secara pribadi, saya merasa bahwa iman saya tidak akan goyah dan kemudian berminat menjadi pengikut Ahmadiyah, sekuat dan senjelimet apa pun argumen disodorkan kepada saya (untuk menunjukkan bahwa Ghulam Ahmad adalah nabi). Begitu pun, secara pribadi saya meyakinkan diri, bahwa saya tidak mungkin lah berpindah agama, murtad, hanya oleh sebuah pemahaman ngawur tentang simbol-simbol ritual di Mekkah. Bagi saya secara pribadi, wacana-wacana yang dimunculkan Ahmadiyah, atau yang disebarkan oleh oknum Antonius, itu justru menjadi ajang untuk menguji kadar keyakinan dan akidah saya. Jadi, apanya yang musti ditakutkan? Untuk apa rebut? Semustinya, saya justru berterimakasih, karena adanya wacana-wacana kontroversial itu menjadikan iman saya makin kuat, dan ada semangat untuk terus mengkaji agama saya, Islam, secara benar dan sungguh-sungguh.

 

Terkait tragedi Pandeglang—dan juga di daerah-daerah lain selama satu dekade terakhir (sejak di NTB, 2001), faktor terkuat yang menjadi dasar kenapa kita (baca: sekelompok Muslim) mengusir, menyerang, bahkan membunuh adalah kemarahan ketika sebuah doktrin keagamaan diusik. Kita tidak rela al-Qur’an dan Hadis kita, konon, ditafsirkan seenak perut para ulama Ahamdiyah untuk mendukung iman mereka pada nubuwwah Ghulam Ahmad. Kita tidak ikhlas jika sebagian saudara kita (Muslim) yang lemah iman dan miskin wawasan, menjadi sasaran empuk dakwah Ahmadiyah, sehingga murtad dari Islam yang benar (yang kita yakini).

Sedangkan terkait rusuh Temanggung, pemicu utamanya tidak lain adalah ketersinggungan kita (baca: sekelompok besar Muslim) oleh ulah seorang oknum agama tertentu yang menyebarkan pikiran-pikiran ngawur dan sembrono terkait simbol-simbol ritual di kota yang kita sucikan, Mekkah. Rasa tersinggung yang amat akut itu ditambah pula dengan ketidakpuasa kita oleh vonis hakim dalam persidangan kasus tersebut, yang menurut kita tidak sebanding dengan kesalahan yang dibuat tersangka (penyebar buku).

 

Selanjutnya, oleh karena doktrin kenabian, al-Qur’an, Hadis, Hajar Aswad, bangunan/batu jumrah, dan lain sejenisnya, itu terkait dengan agama yang kita yakini, Islam, dan Islam terkait dengan, diturunkan oleh, Allah, maka aksi-aksi kekerasan agama itu domotivasi oleh komitmen untuk membela kepentingan Allah. Aksi-aksi kekerasan atas nama agama, dari masa ke masa, selalu saja bisa kita lihat dari kacamata ini, bahwa itu sesungguhnya merupakan ekspresi dari rasa keagamaan kita untuk membela kepentingan Allah. Para pelakunya adalah “Para Pembela Tuhan” (The Defenders of God). Itulah kenapa, dalam aksi ini pelakunya banyak yang bertakbir, karena menganggap aksi ini sebagai jihad fi sabilillah (berjuang di jalan Tuhan). Ketika aksi seperti ini ditempatkan sebagai komitmen melayani Tuhan, maka ia tak ubahnya ibadah, sehingga pelaku merasa tak berdosa ketika ada fasilitas umum yang rusak, rumah atau tempat ibadah yang hancur, atau bahkan nyawa yang melayang sekalipun akibat ulahnya.

 

Sampai di sini, penting untuk ditekankan sekali lagi, bahwa manusia adalah makhluk yang mulia di mata Tuhan, tak peduli siapa pun mereka, karena Allah menggunakan kata Bani Adam dalam QS al-Isra’: 70 di atas. Karena mereka mulia, maka kita musti memperlakukan mereka dengan cara-cara yang mulia pula. Karena kita mulia, maka mustinya mengedepankan cara-cara yang mulia pula dalam mengekspresikan ucapan, pikiran, dan tindakan. Nabi SAW sendiri sangat menekankan hal ini. “Agama itu adalah akhlak yang baik (teks: Al-dinu husnul khuluq), kata sebuah hadis. Dalam hadis lain yang sangat masyhur, “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (teks: Innama bu’its-tu li-utammima makarimal-akhlaq). Lantas, apakah cara-cara yang mulia itu dalam konteks penyelesaian konflik keagamaan (khususnya terkait dua kasus kerusuhan di atas)? Yakni cara-cara jauh dari kekerasan dan aksi main hakim sendiri.

 

Cara yang terbaik dalam merespons gerakan Ahmadiyah adalah dialog yang terus-menerus, seperti yang pernah dicontohkan tokoh dan pahlawan nasional kita Ahmad Hassan (tokoh Persis) di masa lalu. Dengan dialog yang sejuk, kita bisa mengajak mereka kembali ke jalan Islam yang benar. Al-Qur’an sendiri telah menegaskan ihwal prinsip-prinsip dakwah (mengajak ke jalan Tuhan), yang salah satunya berbunyi: “… dan debatlah mereka dengan cara-cara yang baik (teks: wa jadil-hum billati hiya ahsan).” Sebaliknya, jika yang kita tunjukkan justru aksi represif, anarkis, destruktif, hal itu justru akan semakin menghujamkan keyakinan mereka. Aksi menyerang secara fisik hanya boleh kita lakukan dalam suasana perang, itu pun dengan catatan kita telah lebih dulu diserang (QS al-Baqarah: Wa qatilu fi sabilillahil-ladzina yuqatilunakum…). Terkait kasus Temanggung, cara-cara yang mulia itu, tentu saja, adalah mendorong penegakan hukum. Sebab, negara kita adalah negara hukum, dan kasus tersebut berkaitan dengan aturan hukum yang berlaku, yakni menyangkut pasal penodaan agama. Ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Yakinlah, aksi main hakim sendiri dengan cara merusak atau tindak anarkis lainnya, justru akan semakin mencoreng muka Islam yang telah mendakukan diri sebagai agama kedamaian (the religion of peace). Menurut informasi, dalam buku slebaran di Temanggung itu, penulisnya membuat tesis bahwa Islam agama kekerasan. Aksi sekelompok Muslim yang anarkis itu, senyata-nyata justru mengkonfirmasi tesis tersebut.

 

Sebagai simpul akhir tulisan ini, ada baiknya kita menilik salah satu ayat dalam QS al-Baqarah: Ya ayyuhal-ladzina amanud-khulu fis-silmi kaffah… Umumnya para ulama menerjemahkan ayat tersebut sbb: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total…” Terjemahan di atas sesungguhnya keliru. Menurut Nur Ichwan (2010), kata silm lebih dekat dengan salam, yang berarti damai, sehingga dalam kamus dimaknai sebagai khilaf al-harb, anti perang alias nir-kekerasan. Jadi ayat tersebut sejatinya bukan mengajak manusia untuk masuk Islam, atau mempraktikkan ajaran Islam secara total, tetapi menyeru manusia untuk menggunakan cara-cara yang damai (peaceful) dalam menyelesaikan gesekan sosial yang terjadi di masyarakat. Itulah kenapa ayat tersebut dilanjutkan dengan kata-kata, “… dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (teks: … wala tattabi’u khuthuwat al-syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubin).” Artinya, cara-cara yang damai (silm) diperhadapkan secara diametral dengan cara-cara setan (khuthuwat al-syaithan). Bukankah hanya setan saja yang mengajarkan anarki dan destruksi, perang dan permusuhan? Tidakkah cuma setan yang mengajarkan pendekatan-pendekatan konfliktual dalam menyelesaikan masalah? Wallahu a’lam.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s