Kalau kita amati saban hari, banyak sekali survei berseliweran tentang elektabilitas dua capres kita. Beberapa waktu lalu, sebelum masa-masa kampanye seperti sekarang, tingkat elektabilitas salah satu capres mengungguli hampir semua tokoh lain yang difavoritkan publik. Namun, terhitung sejak deklarasi dan memasuki masa-masa kampanye (yang ternyata hanya diikuti 2 pasangan), tingkat elektabilitas antara dua calon di mata publik relatif seimbang; andaipun ada selisih, itu tidak terlalu jauh.
Bukan rahasia umum bahwa akhir-akhir ini media massa cenderung memiliki keberpihakan pada salah satu capres. Namun secara umum harus kita akui bahwa berdasarkan survei pelbagai lembaga riset dan ditayangkan oleh media massa (cetak dan elektronik), konon tingkat elektabilitas salah satu capres masih lebih tinggi daripada rivalnya. Banyak kampanye hitam yang menyerangnya. Tetapi, itu ternyata tidak begitu manjur untuk merongrong tingkat kepercayaan publik kepadanya. Sehingga, berdasar realitas tersebut, banyak yang semakin yakin akan kemenangannya dalam Pilpres tahun ini. Tetapi bagaimana hasil riilnya nanti, kita tunggu saja.

Visi Rangga Warsita
Mayoritas penduduk Indonesia adalah beretnis Jawa, yang sangat kental dengan dunia batin (baca: Kejawen)-nya. Sehingga, dalam sejarahnya sekian lama ini, memprediksi presiden, ataupun mencalonkan diri sebagai presiden, (tetapi) hanya berdasarkan kalkulasi atau asumsi politik yang bersifat rasional an-sich, acap kali meleset dan keliru total. Ada hal mendasar yang musti diperhatikan, yang lebih dari sekadar hitungan atau asumsi rasional, yakni faktor mitos. Munculnya pemimpin-pemimpin besar Indonesia, sejak era pasca kemerdekaan hingga reformasi, dalam keyakinan batin orang-orang Jawa tidak lain hanya mengkonfirmasi mitos yang sudah ada sejak lama.
Adalah RM Ngabehi Rangga Warsita, seorang waliyullah dan pujangga abad 19 asal Kraton Surakarta, yang beratus tahun silam sudah menuliskan visi spiritualnya dalam salah satu serat-nya, bahwa akan ada 7 satria yang akan memimpin bumi Nusantara ini.
Kenapa orang Jawa memercayai sebuah visi spiritual? Bagi orang Jawa, ada orang-orang tertentu yang karena lelaku dan riyadah batinnya yang kuat, memungkinkannya mencapai maqam spiritual yang tinggi di sisi Tuhan, sehingga Dia berkenan menganugerahkan wawasan ladunni kepada orang itu. Jika seseorang telah mencapai derajat spiritual semacam itu, tentu hal-ihwal “ngerti sak durunge winarah” bukan hal aneh baginya. Sebab, dalam kondisi trance, ia bisa memasuki dimensi waktu yang pararel, yang memungkinkannya melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan secara serempak. Bagi orang Jawa, sangat mungkin Rangga Warsita adalah salah satu dari orang-orang yang istimewa itu, seorang waliyullah.
Lantas, siapa saja ketujuh pemimpin itu?
RM Rangga Warsita menyebutkan, pertama adalah Satria Kinunjara Murwa Kuncara, artinya seorang pemimpin yang acap kali masuk penjara (kinunjara), namun kapasitas serta pamornya terkenal ke seantero dunia (murwa kuncara). Kedua, Satria Mukti Wibawa Kesandung Kesampar, yakni pemimpin yang berlimpah kemuliaan duniawi, kaya raya (mukti), amat dihormati dan bahkan ditakuti oleh rakyat (wibawa), tetapi sayangnya pada masa-masa akhir kekuasaannya menjadi obyek caci-maki dan kutukan, bahkan hingga hari tua dan setelah kematiannya (kesandung kesampar). Ketiga, Satria Jinumput Sumela Atur, pemimpin yang memegang kendali kekuasaan karena ‘dipungut’ (jinumput), dan selain itu ia memerintah pada masa transisi, menyela-selai (sumela atur). Keempat, Satria Lelana Tapa Ngrame. Maksud dari lelana, bahwa ia adalah pemimpin yang gemar bepergian. Sedangkan tapa ngrame, artinya pandangan dan kebijakan kenegaraannya tidak sejalan dengan selera orang pada umumnya, berseberangan dengan main-stream awam (orang rame) alias kontroversial. Kelima, Satria Piningit Hamong Tuwuh. Kata piningit berarti muncul secara tiba-tiba tanpa diduga sebelumnya. Sedangkan hamong tuwuh, artinya memelihara ‘trah’ atau gen (darah biru) leluhurnya. Keenam, Satria Boyong Pambukaning Gapura. Kata boyong mengandung arti pindah tempat (posisi), dan hal ini mungkin dimaknai pindah atau berganti karir politik. Sedangkan pambukaning gapura, artinya ia menjadi “pembuka gerbang” menyongsong datangnya pemimpin Nusantara ketujuh, Satria Pinandita Sinisihan Wahyu.
Apakah visi Rangga Warsita ini mengejawantah dalam dinamika perjalanan bangsa kita? Wallahu a’lam. Tetapi, jika kita cermati secara jeli, apa yang diramalkan oleh murid Kyai Besari itu memang kurang lebih klop dengan realitas historis yang kita lalui. Presiden pertama kita adalah orang yang di masa mudanya keluar masuk penjara, dan hari-hari akhir hidupnya juga dijalaninya di penjara (kinunjara). Ia juga seorang yang kapasitas dan karakter pribadinya terkenal di seluruh dunia (murwa kuncara). Presiden kedua kita, sosok yang kaya-raya, harta melimpah ruah (mukti), juga sangat disegani dan ditakuti oleh rakyat dan lawan politik (wibawa), namun kekuasaannya berakhir tragis, diturunkan secara paksa dan selalu dianggap sebagai biang kerok segala derita rakyat (kesandung kesampar).
Begitu presiden kedua turun tahta, secara otomatis sang wakil menggantikan posisinya. Sang presiden ketiga ini layaknya dipungut (jinumput), karena naiknya ke tampuk kekuasaan semata demi menggenapi mekanisme konstitusional. Ia juga tidak lama-lama berkuasa. Pemerintahannya hanya bersifat transisional (sumela atur), untuk mengisi vakum kekuasaan, karena negara dalam masa-masa peralihan dari sistem otoriter-diktatorial menuju system yang demokratis.
Memasuki era reformasi, kita dipimpin oleh presiden keempat yang gemar sekali berkelana (lelana) tidak hanya ke seluruh penjuru negeri, tetapi ke manca negara. Konon, hari-hari kekuasaannya lebih hanya dihabiskan dalam perjalanan kenegaraan ketimbang di istana negara. Ia juga dikenal sejak sebelum, selama, dan sesudah menjadi presiden sebagai sosok yang ‘nyeleneh’ dan kontroversial. Padangan politik dan keagamaannya acap kali berseberangan dengan selera publik (tapa ngrame). Belum genap satu periode, sang satria lelana diturunkan secara paksa karena sebuah kasus, digantikan oleh wakilnya, seorang perempuan yang awal kemunculannya ke panggung politik begitu tiba-tiba dan tak terduga sebelumnya (piningit). Sang perempuan ini selalu mengidentikkan dan mengasosiasikan dirinya, baik secara biologis dan ideologis, dengan nama besar leluhurnya itu (hamong tuwuh).
Presiden keenam kita adalah seorang yang tadinya merupakan salah satu menteri di kabinet presiden sebelumnya. Perubahan karir politiknya dari menteri ke presiden, kalau dianalogikan, tidak ubahnya orang yang “pindah rumah” (boyong), karena tadinya tinggal di rumah dinas menteri kini ke istana negara. Ia memerintah selama dua periode berturut-turut, sehingga tidak memungkinkan untuk mencalonkan diri kembali. Selain itu, perolehan suara partai politik yang dipimpinnya dalam Pemilu terakhir juga turun drastis serta tidak memenuhi syarat untuk mengusung calon sendiri. Bahkan, secara terang-terangan dirinya menegaskan bahwa partainya bersikap netral, tidak mendukung (capres) siapa pun. Dengan kata lain, dalam perhelatan Pilpres kali ini, baik ia dan partainya benar-benar mengambil posisi sebagai penonton, memberi kesempatan kepada person dan partai lain untuk mengambil alih kekuasaan (pambukaning gapura).

Tentang Satria Ketujuh
Dalam visi Rangga Warsita, presiden ketujuh itu bergelar Satria Pinandita Sinisihan Wahyu. Ada yang mengartikan, maksudnya bahwa ia sosok yang sangat religius, sehingga digambarkan bak pandita. Karena kedalaman spiritualitasnya itu, sehingga dalam memimpin ia mengikuti bimbingan Tuhan. Ia menegakkan hukum-hukum Tuhan yang didasarkan pada kitab suci (sinisihan wahyu).
Jika mencermati realitas politik sekarang, tentu tafsiran itu tidak relevan. Pertimbangan logisnya gampang saja. Konstitusi kita menegaskan bahwa negara kita adalah negara demokrasi berdasar Pancalisa dan UUD 1945, bukan negara agama, apalagi Negara Islam. Hampir tidak ada peluang dan potensi sama sekali bagi kita, dalam konteks prosedur demokrasi, untuk mengamandemen konstutusi negara kita agar menjadi negara agama yang akan menerapkan hukum-hukum agama (baca: Islam) per 2014 mendatang. Jadi, terlalu jauh dan ngayawara jika berandai-andai bahwa presiden ketujuh NKRI akan menjalankan pemerintahan berdasar wahyu (baca: kitab suci, agama).

Pinandhita, Bukan Pandhita
Lantas, sosok seperti apakah dia kira-kira? Rangga Warsita dalam visinya itu menyebut Satria Pinandhita, bukan Satria Pandhita. Pinandhita tidaklah sama dengan pandhita, karena ada tambahan in pada yang pertama. Dalam khazanah Jawa, pandhita adalah istilah untuk menyebut seseorang, terutama raja, yang memasuki dunia pertapaan (asketisme) setelah mengakhiri kekuasaannya. Makanya dalam falsafah Jawa ada istilah lengser keprabon madeg pandhita, artinya seorang raja turun tahta lalu mengasingkan diri dan menekuni dunia pertapaan.
Secara kebahasaan (Jawa), tambahan in dalam pinandhita mengandung arti sebagai obyek atau dikenai pekerjaan. Sehingga, secara sederhana pinandhita bisa dimaknai sebagai orang yang dipaksa turun tahta (lengser keprabon) sebelum masa jabatannya berakhir. Jelasnya, sang satria adalah seseorang yang pernah, atau sedang, memiliki jabatan atau karir yang bagus. Namun, karena suatu kondisi, baik karena tuntutan sistem atau malah karena suatu kondisi darurat, ia terpaksa atau dipaksa meninggalkan jabatan atau karir itu sebelum masanya berakhir.
Menarik ternyata, bahwa dengan melihat sejarah hidup masing-masing capres, keduanya sama-sama memiliki potensi dan ciri biografis yang kurang lebih bersenyawa dengan visi spiritual tersebut. Capres satu, Prabowo, sebagaimana kita tahu, dulunya ternyata ia seorang jenderal berbintang tiga dan sedikit lagi menduduki puncak tertinggi kepemimpinan militer. Terlepas apakah kasus pelanggaran HAM 1998 yang menjeratnya itu fitnah dan rekayasa tingkat tinggi atau bukan, yang jelas karena tersebut ia diberhentikan dari kemiliteran, dan itu menyebabkan karirnya pupus sebelum waktunya. Sedangkan capres dua, Jokowi, dalam profil karir yang kita ketahui, setidaknya dua kali dia diminta menanggalkan jabatan politiknya sebelum masanya habis, karena sistem memang memungkinkan hal itu. Ia pernah jadi walikota, lalu diminta oleh parpol pengusungnya meninggalkan kedudukan tersebut demi mencalonkan diri sebagai gubernur. Lolos sebagai gubernur, belum genap lima tahun memerintah ia kini diminta lagi oleh parpol tempatnya bernaung untuk melepas jabatan itu demi maju sebagai capres.
Jadi, kalau soal persyaratan bahwa sang satria adalah seseorang yang dalam sejarah karirnya pernah “diminta berhenti (lengser keprabon)” sebelum waktunya, maka kedua capres sama-sama berpotensi menggenapi visi spiritual tersebut. Yang jadi persoalan adalah, dalam visi tersebut Ranggawarsita menggunakan istilah “pinandhita”, bukan (katakanlah) “linengser”, yang kemungkinan besar mengandung makna bahwa sang satria bukan semata-mata pernah dipaksa atau diminta berhenti dari karir atau jabatannya, tetapi lebih dari itu, bahwa seusai menanggalkan karirnya itu ia mengalami lelaku layaknya pandhita, yakni mengasingkan diri dan menjauhi hiruk pikuk kekuasaan dan kilau keduniaan lainnya, sebelum akhirnya datang kembali untuk “merebut kekuasaan”. Jika ini yang mungkin dimaksud dalam visi tersebut, maka, dengan melihat profil sejarah hidup kedua capres, agaknya sosok Prabowo lebih potensial untuk menggenapinya. Selepas karir militernya dilepas, ia bercerai dengan istrinya (yang notabene anak dari satria kedua), mengasingkan diri dan bermukim di negara lain, dan bahkan konon selama dalam pengasingan itu ia menekuni dunia spiritual, sebelum akhirnya memantapkan hati untuk maju sebagai capres pada 2004 (ikut konvensi partai, tetapi gagal), wapres pada 2009 (gagal), dan kini sebagai capres 2014.

Sinisihan Wahyu
Sinisihan wahyu artinya bahwa sang satria sejak awal sudah membawa garis tangan atau semacam pulung kepemimpinan dari Tuhan. Dengan kata lain, ia sudah kemanjingan wahyu kedaton (ditakdirkan akan menjadi raja/pemimpin). Tentang pulung ini, tafsirannya tergantung dari mana kita berpijak. Jika pulung atau daru ini dipahami sebagai sifat yang melekat dalam diri si satria, maka capres Jokowi-lah yang mungkin lebih berpotensi. Ia terbukti dua kali sukses dalam persaingan merebut tahta kekuasaan, sebagai walikota dan gubernur. Tidak menutup kemungkinan, dalam perebutan posisi capres 9 Juli besok, ia juga akan sukses seperti reputasinya yang sudah-sudah, karena pulung kepemimpinan sudah menjadi sifat yang melekat dalam dirinya.
Dari sisi Prabowo, potensi keklopannya dengan visi tersebut mungkin bisa dijumput jika frasa Pinandhita dan Sinisihan Wahyu dipahami sebagai satu kesatuan, dan agaknya inilah yang lebih masuk akal, sebagaimana kasus satria-satria sebelumnya, di mana ada satu kesatuan makna di antara dua frasa. Kesatuan makna tersebut adalah, bahwa meskipun ia (sang satria) didepak dari karirnya (lengser keprabon), kemudian mengasingkan diri dari ingar-bingar politik dan keduniaan (madeg pandhita), tetapi karena membawa pulung kepemimpinan alias sinisihan wahyu, maka jika tiba waktunya ia akan kembali untuk “merebut” (amanat) kekuasaan dari rakyat.

Penutup
Orang Jawa memahami kekuasaan sebagai sesuatu yang dianugerahkan, bukan semata-mata diusahakan. Karena itu, berbeda dengan mazhab rasional yang memahami kekuasaan sebagai hasil perjuangan rasional dan empirik (untuk meraihnya), orang Jawa justru berpandangan sebaliknya: kekuasaan merupakan anugerah Tuhan kepada orang yang pinilih. Kekuasaan adalah berdasarkan wahyu kedaton. Memang benar, bahwa ada proses yang natural dan penuh dinamika dalam kontestasi pertarungan antar capres-cawapres: pencitraan, survei, peta koalisi, fitnah, rekayasa, kampanye hitam, dll. Tetapi, proses itu pada ujungnya nanti hanya akan menghampirkan pada titik akhir untuk mengkonfirmasi apa yang sudah ditetapkan Tuhan (wahyu). Dalam wawasan dan pemahaman seperti ini, tentu saja angka dan hitungan tingkat elektabilitas lembaga survei, peta koalisi parpol, pencitraan, kampanye negative, dll, menjadi tidak berlaku sama sekali. Pada akhirnya nanti, tepatnya 9 Juli esok, kehendak Tuhan-lah yang akan mengejawantah, melalui pilihan atau coblosan semesta rakyat di bilik-bilik suara, berdasarkan pada hati nurani mereka masing-masing, bukan karena iming-iming material. Itulah makna suara rakyat adalah suara Tuhan, atau dengan ungkapan lain: “suara rakyat adalah wahyu Tuhan.” Wallahu a’lam.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s